Medan, SeputarSumut – Tren pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi secara konsisten dalam lima tahun terakhir dinilai tidak sepenuhnya dipicu oleh faktor sentimen eksternal. Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menyoroti adanya faktor fundamental dari dalam negeri yang turut memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang Garuda.
Jika mengacu pada pergerakan USD Index, pada awal tahun 2020 indeks tersebut berada di kisaran 96,6 dan saat ini merangkak naik ke level 98,93. Meskipun penguatan USD Index berpotensi menekan mata uang rivalnya, namun Gunawan mencatat adanya pola yang perlu diwaspadai pada kinerja Rupiah secara mandiri.
Berita Ekonomi: Penyebab Rupiah Melemah Bukan Hanya Eksternal
“Kalau kita lihat kinerja mata uang Rupiahnya, maka trennya konsisten alami pelemahan. Di sekitar awal tahun 2020, Rupiah sempat diperdagangkan di kisaran angka Rp13.600-an per US Dolar, dan saat ini ditransaksikan di kisaran harga Rp16.700-an per US Dolar,” ujar Gunawan Benjamin, Jumat (9/1/2026).
Fenomena menarik yang terjadi belakangan ini adalah pergerakan USD Index tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan pola pergerakan Rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah tidak lagi melulu bergantung pada naik turunnya indeks dolar di pasar global.
“Artinya tidak melulu saat USD Index naik, maka Rupiah lantas melemah dan sebaliknya. Dan belakangan ini, Menteri Keuangan Purbaya memaparkan bahwa defisit APBN di tahun 2025 sebesar 2,9%, atau nyaris menyentuh batas 3% terhadap PDB. Fiskal memang bisa menjadi salah satu masalah pemicu pelemahan Rupiah,” tambahnya.
Kondisi fiskal yang menekan membuat pemerintah harus bekerja keras untuk menurunkan angka defisit tersebut agar tidak melewati ambang batas 3%. Upaya menekan defisit APBN ini menuntut optimasi dari sektor penerimaan pajak serta langkah efisiensi yang ketat pada sisi pengeluaran negara.
Tantangan terbesar bagi pemerintah pada tahun fiskal 2026 adalah menjaga keseimbangan antara defisit dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi. Meski investasi dari sektor swasta bisa menjadi solusi untuk membiayai pembangunan, tekanan ekonomi global pada tahun 2026 ini diprediksi akan sangat hebat.
Pemerintah juga didorong untuk menutup berbagai celah kebocoran demi mendapatkan likuiditas tambahan guna menopang APBN. Salah satu harapan besar tertumpu pada Danantara yang diharapkan mampu mengelola belanja pembangunan melalui dividen perusahaan pemerintah yang kini dialihkan ke sana.
“Namun di sisi lain kemampuan pemerintah mendapatkan setoran pajak dipertanyakan di tahun yang penuh tekanan ini. Dan mata uang Rupiah dengan sendirinya nanti akan menciptakan titik keseimbangan baru,” jelas Gunawan.
Sisi neraca perdagangan yang menunjukkan surplus pun tidak bisa sepenuhnya dianggap sebagai sinyal pemulihan ekspor. Gunawan memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia tetap menjadi ancaman serius bagi kinerja perdagangan nasional.
Surplus yang terjadi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh penurunan kinerja impor dibandingkan dengan penguatan ekspor yang masif. Kondisi ini membuat landasan fundamental untuk memperbaiki nilai tukar Rupiah menjadi tidak cukup kuat dan solid.
“Sehingga surplus tidak sepenuhnya bisa dijadikan landasan fundamental untuk memperbaiki kinerja mata uang Rupiah. Sehingga BI akan mendapatkan beban tambahan dalam menjaga mata uang Rupiah,” tutur Gunawan.
Sebagai kesimpulan, tekanan pada sisi fiskal yang masih berlanjut diprediksi akan terus menjadi beban bagi nilai tukar di masa depan. “Jadi menurut hemat saya selama tekanan pada fiskal berlanjut, maka Rupiah masih berpeluang untuk melemah terhadap US Dolar,” pungkasnya.(Siong)


