Jakarta, SeputarSumut — Insiden perang suku yang pecah di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan, dilaporkan telah menelan korban jiwa hingga mencapai 13 orang meninggal dunia serta mengakibatkan 19 orang lainnya mengalami luka-luka. Berdasarkan data penanganan medis terkini, dari belasan korban yang terluka tersebut, tiga individu di antaranya teridentifikasi menderita luka dengan kategori berat, sedangkan 16 orang lainnya mengalami luka ringan. Hingga saat ini, puluhan warga yang menjadi korban luka dalam pertikaian tersebut masih mendapatkan perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena.
“Berdasarkan data update terbaru korban perang suku yang meninggal dunia 13 orang,” kata Kasi Humas Polres Jayawijaya, Ipda Efendi Al Husaini kepada detikcom, Minggu (17/5).
Lintas Nasional: Perang Suku di Wamena Jayawijaya Akibatkan 13 Orang Tewas dan Ratusan Warga Mengungsi
“Korban luka berat berjumlah tiga orang. Sementara luka ringan berjumlah 16 orang,” katanya.
Dampak dari eskalasi bentrokan ini juga memaksa sebanyak 789 penduduk setempat untuk meninggalkan kediaman mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Dari total ratusan jiwa yang mengungsi tersebut, tercatat ada sebanyak 298 anak-anak serta 122 warga dengan usia lanjut (lansia). Jika ditinjau berdasarkan klasifikasi jenis kelamin, para pengungsi tersebut terdiri dari 315 orang berjenis kelamin pria dan 476 orang wanita. Di sisi lain, aparat kepolisian setempat hingga kini masih terus melakukan proses pendataan guna memastikan jumlah bangunan yang mengalami kerusakan maupun yang hangus dibakar massa selama aksi pertikaian berlangsung.
“Untuk pengungsi total 789 orang diantaranya 298 anak-anak, 122 lansia. Sementara jumlah berdasarkan jenis kelamin 315 pria dan 476 wanita,” ungkapnya.
Berdasarkan garis kronologinya, konflik bersenjata di Wamena ini melibatkan kelompok dari Suku Pirime (Lanny) berhadapan dengan Suku Kurima (Woma). Perselisihan fisik tersebut pada awalnya meletus di wilayah Distrik Woma, Jayawijaya, pada Kamis (14/5), sebelum akhirnya meluas secara masif ke sejumlah titik lokasi lain di area Jayawijaya hingga Jumat (15/5). Selama jalannya pertikaian antar-kelompok tersebut, kedua belah pihak yang bertikai didapati saling menyerang dengan memanfaatkan senjata tajam serta busur panah.
Mengenai akar permasalahan, Kapolda Papua, Irjen Patrige R Renwarin, memaparkan bahwa konfrontasi keras antar-kelompok warga itu dipicu oleh perkara kecelakaan lalu lintas di masa lampau yang sempat merenggut nyawa seorang anggota dewan (DPRD) asal Lanny Jaya pada tanggal 17 Mei 2024 yang lalu. Hubungan kedua belah pihak kembali merenggang dipicu oleh ketidaksepahaman mengenai nominal atau proses pembayaran denda adat pascainsiden maut tersebut.
“Konflik berawal dari pertikaian lama yang kembali memanas akibat persoalan denda adat pasca peristiwa kecelakaan lalu lintas yang menewaskan anggota DPR dari Lanny Jaya pada tahun 2024,” kata Irjen Patrige dalam keterangannya, Jumat (15/5).
Hingga saat ini, pihak Kapolda belum bersedia memberikan penjelasan secara lebih mendalam mengenai detail perkara denda adat yang dipersoalkan oleh kedua kelompok. Kendati demikian, situasi di lapangan dilaporkan kian rumit dan tidak terkendali setelah upaya mediasi yang digelar untuk merundingkan penyelesaian pembayaran denda adat menemui jalan buntu, yang pada akhirnya memicu aksi saling serang secara terbuka. Kondisi semakin memburuk menyusul adanya insiden runtuhnya sebuah fasilitas penyeberangan umum di tengah kepanikan warga yang terlibat.
“Tragedi bertambah setelah jembatan gantung di Kali UE roboh saat dilintasi massa, yang menyebabkan puluhan warga hanyut dan hilang,” ucapnya.(*/cnni)


