Jakarta, SeputarSumut – Dalam pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Senin (21/10), Perdana Menteri Tiongkok, Li Qiang, mengecam keras praktik “unilateralisme” yang diterapkan seenaknya oleh Amerika Serikat. Li Qiang, yang hadir di KTT tersebut bersama Presiden Donald Trump, menegaskan bahwa dunia tidak boleh kembali pada “hukum rimba,” terutama dalam urusan ekonomi dan perdagangan, hanya beberapa hari sebelum pertemuan antara Trump dan Presiden Xi Jinping berlangsung.
“Globalisasi ekonomi dan multipolaritas dunia adalah hal yang tidak dapat diubah,” ujar Li. “Dunia tidak boleh kembali pada hukum rimba, di mana yang kuat menindas yang lemah.” Pernyataan ini secara jelas merupakan tanggapan terhadap kebijakan tarif yang diberlakukan oleh Presiden Trump terhadap sejumlah negara, khususnya kepada Tiongkok, sejak ia kembali menjabat di Gedung Putih awal tahun ini.
Dunia Internasional: PM Tiongkok Kecam Unilateralisme AS Jelang Pertemuan Trump-Xi
Li menambahkan, saat pertemuan yang berlangsung di sela-sela KTT ASEAN, bahwa maraknya unilateralisme dan proteksionisme saat ini telah menimbulkan risiko besar bagi kawasan. Oleh karena itu, ia menyerukan komitmen yang lebih kuat terhadap sistem perdagangan bebas global untuk stabilitas ekonomi.
Di sisi lain, dikutip dari AFP, Trump dan Xi dijadwalkan bertemu pada Kamis pekan ini di Korea Selatan, yang merupakan bagian dari rangkaian KTT APEC, untuk membahas kemungkinan tercapainya kesepakatan yang diharapkan dapat mengakhiri perang dagang berkepanjangan antara kedua negara. Dalam perjalanannya menuju Jepang, Presiden Trump menyatakan optimisme bahwa ia dapat mencapai kesepakatan mengenai perdagangan dengan Xi saat keduanya bertemu pada hari Kamis mendatang.
Peluang kesepakatan ini menguat setelah AS dan Tiongkok dilaporkan telah menyepakati kerangka perjanjian dagang pada Minggu, yang dicapai menjelang pertemuan Xi-Trump. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengatakan bahwa kesepakatan sementara ini, yang dicapai di sela-sela KTT ASEAN, akan menghapus ancaman penerapan tarif sebesar 100% terhadap impor dari Tiongkok yang sedianya dimulai 1 November. Selain itu, perjanjian tersebut juga mencakup “kesepakatan final” mengenai penjualan TikTok di AS.
Menanggapi hal ini, negosiator perdagangan utama Tiongkok, Li Chenggang, menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai “konsensus awal” dan kini akan melanjutkan proses persetujuan internal di masing-masing negara.
“Sikap Amerika Serikat sangat tegas,” ujar Li seperti dikutip The Guardian. Beliau menambahkan, “Kami telah melalui proses konsultasi yang sangat intens dan melakukan pertukaran pandangan yang konstruktif untuk mencari solusi dan pengaturan yang dapat mengatasi kekhawatiran tersebut.”(*/cnni)


