Jakarta, SeputarSumut — Kapal induk milik Angkatan Laut Prancis, Charles de Gaulle, dilaporkan tengah bergerak menuju kawasan selatan Laut Merah sebagai langkah siaga menghadapi potensi misi pemulihan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Pengerahan ini merupakan respons atas berlanjutnya blokade oleh pihak Iran di jalur perairan strategis tersebut.
Kementerian Pertahanan Prancis mengonfirmasi bahwa Charles de Gaulle yang bertindak sebagai kapal utama, saat ini sedang melintasi Terusan Suez bersama sejumlah kapal pengawal. Berdasarkan keterangan resmi kementerian, pergerakan ini bertujuan “untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam melaksanakan inisiatif ini segera setelah situasi memungkinkan,” guna mengantisipasi eskalasi lebih lanjut.
Dunia Internasional: Prancis Kerahkan Kapal Induk Charles de Gaulle ke Laut Merah untuk Amankan Selat Hormuz
Kondisi di Selat Hormuz sendiri saat ini sangat kritis, di mana lalu lintas laut di wilayah yang mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu hampir lumpuh total. Kemacetan jalur distribusi ini terjadi sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada tanggal 28 Februari lalu.
Menyikapi situasi tersebut, lebih dari 40 negara telah menyusun perencanaan militer untuk misi di Hormuz melalui pembicaraan yang diinisiasi oleh Prancis dan Inggris. Langkah tegas diambil Paris karena “blokade Selat Hormuz terus berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global semakin parah, dan risiko konflik berkepanjangan terlalu serius untuk diterima.”
Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan bahwa pengerahan armada tempur ini merupakan pesan diplomasi militer. Macron menyatakan langkah tersebut dimaksudkan untuk mengirimkan “sinyal bahwa kami tidak hanya siap mengamankan Selat Hormuz, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melakukannya.”
Dalam menjalankan misi antarnegara untuk memulihkan kebebasan navigasi ini, Macron bekerja sama dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Meskipun armada telah disiagakan, Paris dan London menekankan bahwa operasi tersebut sepenuhnya bersifat defensif dan baru akan diterjunkan secara resmi setelah peperangan berakhir.
Melalui unggahan di media sosial X, Macron juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menjalin komunikasi langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia, terlebih saat proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih mengalami kebuntuan.
“Semua pihak harus mengakhiri blokade selat itu, tanpa penundaan dan tanpa syarat,” tulis Macron sebagaimana dikutip dari laporan AFP.
Pernyataan Presiden Macron tersebut merujuk pada situasi kompleks di lapangan, termasuk adanya tindakan blokade dari Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran, serta kontrol ketat yang dilakukan Teheran terhadap jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.(*/cnni)


