Jakarta, SeputarSumut — Kepala Negara Prabowo Subianto memberikan penegasan bahwa setiap elemen masyarakat Indonesia mempunyai kedudukan sebagai pemegang saham atas segala potensi kekayaan yang dimiliki oleh bangsa ini. Dirinya mengutarakan bahwa pondasi berdirinya Indonesia bertumpu pada falsafah Pancasila serta asas kekeluargaan.
Prinsip dasar ketatanegaraan tersebut yang pada gilirannya memosisikan segenap warga negara memiliki hak yang sah atas kekayaan negara. Penjelasan mendalam tersebut disampaikannya secara langsung di hadapan publik ketika menghadiri agenda peresmian Museum dan Rumah Singgah Pahlawan Buruh Marsinah yang berlokasi di Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5).
Lintas Nasional: Resmikan Museum Marsinah, Presiden Prabowo Tegaskan Rakyat Pemegang Saham Kekayaan Indonesia
“Kepada para pengusaha saya mengajak ayo bersama-sama menjadi Indonesia Incorporated. Sebetulnya adalah negara kekeluargaan,” ujar Prabowo dalam siaran langsung YouTube Sekretariat Presiden.
“Jadi semua bangsa ini satu korporasi. Artinya seluruh rakyat adalah pemegang saham dalam seluruh kekayaan bangsa Indonesia. Semua rakyat Indonesia berhak atas kekayaan tersebut,” imbuhnya dengan semangat yang menggebu-gebu.
Melalui untaian pidatonya, Prabowo turut mengangkat kembali memori perjuangan sosok Marsinah yang dipandang sebagai representasi perlawanan kaum pekerja. Menurut pandangannya, akhir hidup yang memilukan dari tokoh tersebut sejatinya tidak bakal terjadi jika implementasi poin-poin Pancasila dapat diwujudkan secara tepat dan benar di tengah kehidupan berbangsa.
Dirinya menguraikan bahwa tragedi hilangnya nyawa Marsinah di masa lampau harus dijadikan sebagai cerminan sekaligus alarm pengingat bagi jajaran pemerintahan agar selalu hadir di garda terdepan dalam memproteksi hak-hak masyarakat kecil, termasuk di dalamnya kaum buruh.
“Peristiwa Marsinah yang dibunuh secara keji karena memperjuangkan kaum buruh pabrik suatu perusahaan sesungguhnya sama sekali tidak perlu terjadi karena negara kita didirikan dengan falsafah dasar Pancasila,” katanya.
Bagi Prabowo, butir kelima yang tercantum di dalam Pancasila yang mengatur perihal keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan tiang penyangga yang paling mendasar bagi otoritas negara untuk menyusun serta mematangkan tata kelola perekonomian yang berkeadilan.
Ia menambahkan bahwa regulasi mengenai sistem roda ekonomi di tanah air sejatinya telah diamanatkan secara gamblang lewat Pasal 33 UUD 1945 yang memberikan penekanan utama pada prinsip kekeluargaan.
“Yang kaya harus menarik yang miskin, yang kuat bantu yang lemah. Buruh adalah anak bangsa, petani anak bangsa, nelayan anak bangsa,” ujar Prabowo.
Pada momen yang sama, Presiden ke-8 RI ini melempar pesan peringatan kepada segenap jajaran aparatur pertahanan dan keamanan, tidak terkecuali institusi tentara maupun kepolisian, bahwa status mereka merupakan bagian integral dari rakyat yang operasionalnya disokong penuh oleh dana publik untuk mendedikasikan diri melayani masyarakat.
“Aparat tentara dan polisi itu anak bangsa, diseleksi, dibiayai, digaji oleh rakyat, diberi makan oleh rakyat, diberi sepatu oleh rakyat, diberi topi oleh rakyat, diberi pangkat oleh rakyat,” katanya.
Di sisi lain, Prabowo meluapkan rasa syukurnya karena telah diberikan kesempatan serta kehormatan besar guna mengesahkan status Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. Kebijakan ini diambil setelah sebelumnya didapati kesepakatan bulat dan usulan resmi dari seluruh elemen serikat pekerja buruh yang menuntut pemberian gelar kehormatan bagi sang aktivis.
“Saya mendapat kehormatan untuk menjadikan beliau sebagai pahlawan nasional,” ucapnya.
Prabowo pun tidak menampik adanya rasa sedih dan haru yang mendalam tatkala dirinya berkesempatan melihat secara langsung kondisi ruang kamar serta berbagai benda peninggalan sejarah milik Marsinah di area museum yang baru saja dibuka itu.
“Saya tadi melihat kamar beliau tidak diubah. Saya lihat perjuangan beliau dan saya prihatin dengan peristiwanya,” ujarnya.
Ia memberikan penilaian objektif bahwa tindakan dari oknum pelaku usaha maupun jajaran manajemen perusahaan yang berorientasi mengeruk profit melimpah dengan cara mengebiri pemenuhan hak pekerja sangat mencederai tujuan utama dari proses berdirinya Republik Indonesia.
“Bahwa ada seorang atau pimpinan pengusaha yang punya pemikiran jahat demi keuntungan besar, ini tidak sesuai dengan dasar berdirinya republik kita,” katanya.
Menyusul selesainya prosesi pemotongan pita di Museum Marsinah, rangkaian agenda kunjungan kerja Presiden Prabowo berikutnya diproyeksikan untuk melakukan peresmian massal terhadap lebih dari 1.000 unit Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih yang tersebar di bermacam-macam penjuru daerah di Indonesia.(*/cnni)


