Medan, SeputarSumut – Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan, menegaskan bahwa sampah tidak seharusnya dipandang sebagai limbah. Menurutnya, sampah adalah barang yang belum dimanfaatkan secara optimal dan memiliki potensi besar dalam ekonomi sirkular.
Pernyataan tersebut disampaikan Sofyan Tan dalam acara Bimbingan Teknis (Bimtek) Sirkulasi Ekonomi Berbasis Pengolahan Sampah yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Hotel Emerald Garden, Medan, Rabu (20/8).
Sorot Politik: Sampah Berpotensi Besar dalam Ekonomi Sirkular, dr. Sofyan Tan: Sampah Punya Nilai Ekonomi
”Selama ini orang berpikir sampah itu tidak berguna. Namun, bagi saya, definisi sampah adalah bahan atau benda yang belum termanfaatkan. Jika dikelola dengan benar, justru punya nilai ekonomi dan bisa jadi solusi lingkungan,” kata Sofyan di hadapan peserta bimtek. Acara tersebut juga dihadiri oleh Analis Pemanfaatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ahli Muda BRIN, Faizinal Abidin ST MT.
Sofyan Tan menjelaskan, sampah terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu organik dan anorganik. Sampah organik seperti dedaunan dapat diurai menjadi kompos, sementara sampah anorganik seperti plastik bisa membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai. “Botol plastik itu butuh waktu 500 tahun baru bisa terurai, dan benang plastik bisa sampai 600 tahun. Ini karena mikroorganisme tak mampu mengurainya. Ujung-ujungnya, hanya jadi mikroplastik,” terangnya.
Politisi yang dikenal sebagai aktivis lingkungan ini juga berbagi pengalamannya dalam mengolah sampah. Selama dua dekade, ia mengelola dua hektare lahan pertanian organik yang mengolah sampah menjadi pupuk kompos untuk menyuburkan tanaman.
Pemanfaatan Sampah dan Bahaya Mikroplastik
Sofyan Tan juga pernah menginisiasi pengolahan botol plastik di Aceh pasca-tsunami. Saat itu, ia melihat sampah botol plastik berserakan dan menumpuk. Ia pun menggandeng perusahaan Danone yang bersedia menyumbangkan mesin pencacah botol plastik menjadi biji plastik. Biji plastik tersebut kemudian ditampung oleh perusahaan air mineral kemasan untuk dijadikan botol kembali, sementara tutupnya diolah menjadi poliester untuk bahan tekstil.
Sayangnya, usaha tersebut tidak berkembang karena kurangnya keseriusan dari kelompok masyarakat yang mengerjakannya. Hal ini berbeda dengan di Jawa, di mana usaha daur ulang sampah plastik berkembang dengan baik sebagai bagian dari ekonomi sirkular.
Sofyan Tan juga mengungkapkan, limbah plastik bisa dijadikan produk kerajinan bernilai tinggi jika dikemas dengan narasi yang kuat. “Kalau dijelaskan bahwa produk ini dibuat dari sampah plastik demi menyelamatkan bumi, masyarakat bisa lebih tertarik. Apalagi kalau ditulis ‘membeli barang ini bisa masuk surga’, pasti lebih laku,” ujarnya sambil berkelakar.
”Nah inilah pentingnya bimtek hari ini. Agar sirkulasi ekonomi dari pengelolaan sampah dapat dioptimalkan dan bernilai ekonomis,” lanjutnya.
Lebih jauh, Sofyan Tan mengingatkan bahaya mikroplastik yang meresap ke tanah dan mengalir ke sungai hingga laut. Mikroplastik ini dimakan ikan dan akhirnya masuk ke tubuh manusia, yang dapat memicu penyakit serius seperti kanker. “Ini ancaman nyata. Makanya, mengurangi plastik itu bukan cuma soal lingkungan, tapi juga soal kesehatan dan penghematan,” tegasnya.(Siong)

