Medan, SeputarSumut – Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, dr. Sofyan Tan, kembali menyambangi almamaternya, Universitas Methodist Indonesia (UMI), dalam sebuah kegiatan kuliah umum yang dipenuhi refleksi mendalam mengenai nilai kemanusiaan dan perjalanan hidup. Alumni UMI angkatan 1978 ini hadir tidak hanya untuk berbagi pengalaman, tetapi juga untuk menyuarakan harapan besar, yaitu membuka pintu akses pendidikan kedokteran bagi anak-anak yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Kuliah umum tersebut diselenggarakan di Aula UMI, Tanjungsari, Medan Selayang, pada Selasa (16/12), dan dihadiri oleh Rektor UMI, Dr. Humuntal Rumapea, M.Kom, Dekan Fakultas Kedokteran UMI, dr. Alexander Marpaung, SH, MKT, AIFO-K, CPM, beserta seluruh civitas akademika, dosen, dan mahasiswa.
Sorot Politik: Sofyan Tan Dorong UMI Buka Beasiswa Kedokteran
Dalam presentasinya, Sofyan Tan secara lugas menyampaikan keinginannya agar UMI menyediakan ruang bagi mahasiswa dari keluarga prasejahtera untuk menempuh pendidikan kedokteran melalui jalur beasiswa aspirasi yang selama ini ia perjuangkan.
“Izinkanlah anak-anak tidak mampu bisa kuliah kedokteran di UMI. Jangan biarkan kemiskinan memutus cita-cita,” tutur Sofyan Tan, yang langsung disambut dengan tepuk tangan meriah dari hadirin.
Ia kemudian mengajak peserta kuliah umum untuk menelusuri kisah pribadinya yang membentuk jalan hidupnya sebagai seorang dokter. Sofyan Tan mengaku, sejak masa muda, ia telah memendam cita-cita untuk menjadi dokter spesialis anak, didorong oleh rasa terpanggil melihat penderitaan anak-anak yang tengah sakit.
Salah satu pengalaman yang paling berkesan terjadi ketika ia menjalani masa koas di sebuah rumah sakit di Pematang Siantar. Suatu malam, di tengah hujan deras, seorang pasien anak datang dalam kondisi kritis. Upaya pemasangan infus gagal karena pembuluh darah anak tersebut kolaps. Keluarga pasien—seorang ayah Batak yang hanya memiliki satu anak laki-laki—dilanda kepanikan hebat, marah, menangis, bahkan sampai memukul dinding.
“Saya jaga malam, pakai baju dokter, periksa anak itu. Dalam hati saya bilang, ini bisa lewat,” kenangnya.
Ia lantas menghubungi dokter pembimbingnya, yang dengan tenang menyarankan pemberian kortikosteroid, obat yang pada masa itu dikenal sebagai “obat dewa”. Awalnya ia hanya memberikan resep kepada orang tua pasien untuk ditebus di apotek. Namun, resep tersebut tidak dapat dibeli oleh keluarga. Hingga akhirnya, Sofyan Tan sendiri yang berinisiatif membeli obat di apotek meski harus menerjang hujan yang sangat lebat, demi menyelamatkan nyawa seorang anak, yang merupakan pewaris marga.
Setelah obat berhasil didapatkan dan disuntikkan, kondisi anak tersebut berangsur membaik dan infus akhirnya dapat terpasang. Anak itu berhasil melewati masa kritis dan akhirnya selamat.
Keesokan harinya, Sofyan Tan dikelilingi oleh satu bangsal rumah sakit untuk menerima ucapan terima kasih dari keluarga pasien yang berdatangan. Ia mengenang bahwa saat itu ia diberi ayam kalasan oleh keluarga pasien sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih.
“Itu momen yang tidak pernah saya lupakan. Di situlah saya belajar, menjadi dokter itu tentang hati,” ucapnya.
Meskipun demikian, jalan hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Ia mengakui bahwa semua cita-citanya nyaris kandas hanya karena kondisi ekonomi keluarganya yang miskin. Dari pengalaman itulah ia menegaskan betapa pentingnya membuka akses pendidikan yang adil bagi semua.
Dalam kuliah umumnya, Sofyan Tan juga menekankan nilai-nilai dasar yang wajib dimiliki oleh seorang dokter dan pemimpin, yakni dedikasi, inisiatif, kejujuran, tanggung jawab, fokus, dan konsistensi, tanpa membedakan suku maupun agama.
“Dokter itu dididik tinggi untuk menolong siapa saja. Tidak ada waktu tanya agama atau suku pasien. Yang ada hanya satu, selamatkan nyawa,” tegasnya.
Ia memberikan pesan kepada mahasiswa kedokteran agar tidak berorientasi pada perhitungan balik modal. Menurutnya, fokus dan konsistensi akan membentuk spesialisasi dan keunggulan profesional.
“Dokter itu dilatih bertindak cepat dan memberi solusi, bukan banyak wacana. Itulah nilai lebih dari politisi yang punya latar belakang dokter,” katanya, mengaitkan peran dokter dalam kancah politik dan kebijakan publik.
Ia menutup paparannya dengan pesan reflektif yang menggugah, bahwa setiap orang boleh miskin harta, tetapi jangan sampai miskin otak. Setiap orang boleh kaya harta, tetapi jangan miskin hati. “Jadilah dokter yang punya hati, bukan dokter pengusaha, karena itu akan mengkhianati Sumpah Hippokrates (sumpah kedokteran),” ujarnya.
Rektor UMI, Dr. Humuntal Rumapea, M.Kom, menyambut baik aspirasi tersebut dan menyatakan bahwa Fakultas Kedokteran UMI siap membuka kuota beasiswa sesuai dengan harapan dr. Sofyan Tan.
Sementara itu, Dekan FK UMI, dr. Alexander Marpaung, menegaskan bahwa kuliah umum ini menjadi ajang untuk berbagi kiat sukses Sofyan Tan sebagai dokter, pendidik, sekaligus anggota DPR RI. Ia menyebutnya sebagai sebuah perjalanan panjang dari seorang mahasiswa UMI hingga menjadi figur nasional yang tetap memegang teguh nilai kemanusiaan.
“Mahasiswa tidak hanya diajar unggul secara akademik, tetapi juga harus memiliki kompetensi dan karakter di luar akademik,”tutupnya.(Siong)

