Medan, SeputarSumut — Tahapan pencegahan stunting mulai dari kondisi ibu hamil hingga indikator fisik bayi setelah lahir dipaparkan secara rinci oleh Anggota Komisi X DPR RI, dr. Sofyan Tan. Penjelasan tersebut disampaikan dalam kegiatan Bimbingan Teknis Faktor Risiko Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan yang diselenggarakan oleh BRIN bersama Komisi X DPR RI di Hotel Le Polonia, Medan, Jumat (13/2/2026).
Periode emas yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak mencakup seribu hari pertama kehidupan atau setara dengan 36 bulan, menurut Sofyan Tan. Ia menegaskan bahwa langkah preventif terhadap stunting wajib dilakukan sejak bayi masih berada di dalam kandungan.
Sorot Politik: Sofyan Tan Paparkan Tahapan Cegah Stunting
“Faktor risiko stunting sebenarnya dimulai dari kondisi kesehatan ibu selama masa kehamilan. Jika ibu mengalami kurang gizi, wajah pucat, sering pusing, hingga tekanan darah rendah, itu sudah menjadi alarm bahaya,” ungkapnya.
Penyebab utama ibu hamil kekurangan asupan nutrisi sering kali berakar pada masalah kemiskinan, tutur Sofyan Tan. Realitas di lapangan menunjukkan banyak ibu harus membagi makanan untuk anak-anaknya, bahkan ia menyebut sosok ibu sebagai “pembohong terbesar” demi buah hatinya.
“Seorang ibu sering kali menahan lapar dan berbohong sudah makan agar anaknya bisa makan lebih dulu,” tuturnya saat menggambarkan pengorbanan luar biasa yang justru berisiko buruk bagi kesehatan janin dan ibu itu sendiri.
Faktor krusial lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah pengaturan jarak kehamilan. Risiko tinggi membayangi ibu yang hamil kembali dalam waktu yang terlalu dekat dengan persalinan sebelumnya, terutama saat kondisi fisik belum pulih atau masih dalam masa menyusui. “Belum setahun melahirkan sudah mengandung lagi, sementara kondisi tubuh belum kembali normal,” kata dia.
Kualitas kelahiran juga menjadi sorotan Sofyan Tan, di mana usia kehamilan ideal berada pada rentang 38 hingga 40 minggu. Bayi yang lahir prematur di bawah 32 minggu rentan mengalami gangguan organ, seperti katup jantung yang belum menutup sempurna, sehingga distribusi oksigen terganggu dan menghambat pertumbuhan.
Parameter fisik bayi yang baru lahir juga dijelaskan secara detail dalam forum tersebut. Bayi perempuan idealnya memiliki berat 2,4-3,7 kg, sementara laki-laki 2,5-3,9 kg dengan panjang badan 46-53 cm, serta ukuran lingkar kepala yang harus proporsional dengan badannya.
Kekurangan gizi pada anak usia satu hingga dua tahun dapat dideteksi melalui kondisi kulit yang kering, bersisik, serta lambat kembali saat dicubit. Selain indikator fisik, anak yang kekurangan nutrisi umumnya lebih sering rewel, mudah menangis, dan tampak kurang ceria.
Konsumsi protein tinggi seperti ikan dan telur bagi ibu hamil disarankan oleh Sofyan Tan sebagai solusi utama. Setelah proses persalinan, pemberian ASI eksklusif menjadi kewajiban yang tak boleh ditinggalkan untuk menjamin pertumbuhan anak berjalan optimal.
Masa depan intelektual dan kualitas generasi bangsa sangat ditentukan sejak 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga Sofyan Tan berharap edukasi ini memperkuat kesadaran masyarakat. Ia menekankan bahwa stunting bukan sekadar masalah fisik, melainkan investasi sumber daya manusia sejak masa kehamilan.
Di sisi lain, Slamet Riyanto, S.Gz., M.PH., selaku Peneliti Ahli Muda BRIN, menyatakan bahwa masalah stunting merupakan tanggung jawab kolektif mulai dari remaja hingga orang tua. Data SSGI 2024 menunjukkan angka stunting di Sumatera Utara masih berada di angka 22 persen, yang berarti satu dari lima balita masih terdampak.
Intervensi stunting tidak hanya terbatas pada gizi, tetapi juga mencakup pemberian stimulasi dini untuk kecerdasan otak. “Tujuan mencegah stunting bukan hanya agar anak tidak bertubuh pendek, melainkan yang utama adalah menjaga agar IQ anak tidak rendah,” pungkasnya.(Siong)

