Medan, SeputarSumut — Keutuhan wilayah Indonesia di tengah kepungan kemajemukan bahasa, agama, budaya, serta suku bangsa dinilai berhasil dipertahankan berkat keberadaan Pancasila yang berfungsi sebagai benteng utama. Penegasan tersebut diutarakan oleh dr Sofyan Tan selaku perwakilan Anggota MPR/DPR RI yang berasal dari Fraksi PDI Perjuangan.
Pernyataan krusial itu dilayangkan oleh Sofyan Tan sewaktu dirinya menghadiri agenda Sosialisasi 4 Pilar MPR RI Berbasis Komunitas yang memuat materi seputar Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Pergelaran yang diinisiasi oleh Badan Sosialisasi MPR RI melalui jalinan kerja sama dengan Perkumpulan Persatuan Alumni dan Mahasiswa Aspirasi (Pamas) dr Sofyan Tan tersebut dilaksanakan di Hotel Four Points by Sheraton, Jalan Gatot Subroto, Medan, pada Selasa (2/6).
Sorot Politik: Sofyan Tan Tegaskan Pancasila Sebagai Benteng Utama Keutuhan Bangsa di Tengah Keberagaman
Di tengah penyampaian materinya, Sofyan Tan sempat mengulas kembali lembaran sejarah mengenai isi obrolan antara proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, sewaktu berbincang dengan sahabat karibnya yang merupakan Presiden Yugoslavia, Josip Broz Tito.
Menurut penjelasan Sofyan Tan, pada masa itu Soekarno sempat melayangkan pertanyaan kepada Tito perihal rupa warisan yang kelak bakal didelegasikan bagi keberlangsungan negaranya. Merespons pertanyaan itu, Tito berujar bahwa dirinya bakal mewariskan kekuatan armada militer yang kokoh guna membela kedaulatan bangsa. Sebaliknya, manakala Soekarno dihadapkan pada pertanyaan yang sama, ia memberikan penegasan bahwa dirinya mengamanatkan sebuah ‘way of life’ bagi kelangsungan hidup Indonesia, yang tidak lain adalah Pancasila.
“Dulu banyak pihak memprediksi Indonesia akan terpecah menjadi beberapa negara karena begitu banyak perbedaan yang ada. Namun yang terjadi justru Yugoslavia yang terpecah menjadi beberapa negara, sementara Indonesia tetap utuh hingga saat ini karena memiliki Pancasila sebagai dasar dan pemersatu bangsa,” ujar Sofyan Tan.
Lebih lanjut ia menguraikan bahwa tanah air dianugerahi kekayaan yang luar biasa berupa eksistensi ratusan suku bangsa, di mana dari sana lahir rupa-rupa kemajemukan adat tradisi, budaya, bahasa daerah, hingga kekhasan produk kuliner yang menjadi simbol identitas nasional. Spektrum kekayaan tersebut kian diperkuat oleh bentangan potensi sektor pariwisata yang tersebar merata dari kawasan Sabang sampai ke Merauke.
Berdasarkan cara pandang Sofyan Tan, akumulasi dari seluruh kekayaan alam dan budaya tersebut merupakan wujud aset nasional yang wajib dipelihara serta dilestarikan secara kolektif. Corak heterogenitas yang melekat pada Indonesia idealnya tidak diposisikan sebagai pemicu keretakan sosial, melainkan harus dikonversi menjadi sebuah energi kekuatan dalam rangka membangun kemajuan negara.
Besarnya potensi di bidang pariwisata, pluralitas suku bangsa, khazanah budaya, beserta keberagaman kuliner tradisional yang dipunyai Indonesia sejatinya merupakan karunia yang tak ternilai harganya. Seluruh aspek potensial tersebut dipastikan hanya dapat terus bertumbuh secara berkesinambungan apabila elemen bangsa ini konsisten menjaga persatuan di bawah naungan 4 Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Manakala komitmen persatuan ini runtuh akibat perpecahan, maka secara otomatis seluruh potensi kekayaan nasional tersebut diprediksi akan ikut hancur.
Pada sesi yang sama, Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR RI, Muhammad Hoerudin Amin, S.Ag., M.H., memberikan pemaparan mengenai hasil studi data yang mengindikasikan masih minimnya tingkat pemahaman khalayak luas terhadap esensi Pancasila.
“Berdasarkan survei yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI), dari sekitar 270 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 5 juta orang yang benar-benar mengetahui dan memahami Pancasila. Karena itu sosialisasi seperti ini sangat penting dilakukan,” ujar Anggota MPR/DPR RI Komisi X Fraksi Partai Amanat Nasional itu.
Menurut penilaian Hoerudin, kedudukan Pancasila memegang peranan vital sebagai elemen perekat bangsa yang bernilai mutlak untuk terus diinternalisasikan ke dalam sanubari seluruh lapisan masyarakat, demi menjamin kelestarian nilai-nilai kebangsaan.
Dalam momentum pergelaran yang sama, Anggota MPR/DPR RI Komisi VII Fraksi PKB, Chusnunia Chalim, melayangkan seruan kepada segenap lapisan warga untuk senantiasa memelihara keberadaan Pancasila sebagai tiang pancang persatuan nasional.
“Pancasila harus kita rawat bersama untuk menjaga keutuhan bangsa. Di saat banyak negara mengalami konflik, perpecahan, bahkan perang, Indonesia masih mampu hidup rukun dan mempertahankan persatuannya,” katanya.
Agenda sosialisasi kebangsaan ini terpantau ikut dihadiri oleh jajaran tokoh penting lainnya, di antaranya Anggota MPR/DPR RI Komisi XIII Fraksi Partai NasDem Tonny Tesar, Anggota MPR/DPR RI Komisi IX Fraksi PKS H. Alifudin, Anggota MPR/DPD RI Zuhri M Syazali Lc, serta barisan anggota dari komunitas Pamas dr Sofyan Tan yang pergerakannya diarsiteki oleh Reza Mahendra.(Siong)

