Pematangsiantar, SeputarSumut — Penerapan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di tingkat Sekolah Dasar (SD) di Kota Pematangsiantar menunjukkan hasil yang melampaui ekspektasi. Program yang didampingi oleh Fasilitator Daerah (FASDA) Tanoto Foundation ini berhasil memicu semangat belajar guru dan inovasi siswa, khususnya dalam literasi dan numerasi.
Di UPTD SD Negeri 125554 Pematangsiantar, yang menjadi sekolah mitra, Kepala Sekolah Ibu Dame Siringo-Ringo, menyampaikan kebanggaannya. “Saya merasa sangat bangga. Begitu saya pelajari apa itu STEM, saya ajak semua guru berkolaborasi untuk menjalankan STEM itu, sehingga guru saya merespons dengan baik,” ujar Ibu Dame.
Kabar Daerah: STEM Tingkatkan Literasi & Numerasi Guru di Pematangsiantar: Berdampak Besar!
Observasi Kelas: IPAS Menjadi Lomba Racing Berbasis Magnet
Kisah sukses penerapan STEM ini terlihat nyata di ruang kelas V-B UPTD SD Negeri 125554 Pematangsiantar. Pagi itu, pembelajaran mata pelajaran IPAS yang diampu oleh guru Dora Yessi M Sinaga berlangsung dengan suasana gembira. Dora saat itu menyampaikan materi tentang Sifat Magnet, mengajak siswa mengenal gaya tarik dan gaya tolak magnet melalui percobaan.

Media pembelajaran yang digunakan sangat inovatif, meliputi mainan kulkas, klip kertas, dan mobil rakitan yang dikreasikan oleh guru dan siswa dari bahan botol minum plastik bekas, yang telah dilengkapi magnet. Pembelajaran diselingi dengan permainan (games) menggunakan media tersebut, salah satunya adalah lomba racing.
Model pembelajaran yang diterapkan Dora adalah pembelajaran berbasis STEM, suatu pendekatan yang mengintegrasikan empat subjek: sains, teknologi, engineering (rekayasa), dan matematika. STEM berfokus pada pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari melalui gabungan keempat disiplin ilmu tersebut.
“Dengan membuat mobil rakitan ini, siswa dapat mengenal dan mempraktekkan prinsip teknologi sederhana. Dengan game lomba racing, siswa praktik menghitung kecepatan dan mempelajari bagaimana mobil bisa bergerak karena pengaruh unsur magnet tadi,” ujar Dora saat ditemui media di ruang kelas pada (30/10/2025). “Jadi siswa mengamati dan membuktikan sifat magnet, menghitung durasi waktu dan lain-lain. Jadi ada sains, teknologi, engineering, dan matematikanya juga,” tambahnya.

Dora adalah salah satu guru yang mendapat pelatihan dan pendampingan komprehensif dari tim Fasda Perubahan Tanoto Foundation. Program ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi peserta didik di Pematangsiantar.
Dora dan guru lainnya sangat merasakan manfaat program ini. “Anak-anak lebih mudah menyerap pelajaran yang kita sampaikan. Mereka lebih aktif dan semangat,” ujar Dora. Guru lainnya, Agustina, mengatakan hal senada, “Pelatihan yang diberikan membuat kita sebagai guru bisa lebih kreatif. Bagaimana menciptakan pembelajaran lebih menarik lagi.
Dampak Nyata dalam 3 Bulan
Dalam kurun waktu tiga bulan, siswa SD 125554 sudah menunjukkan kemajuan signifikan.
“Dalam 3 bulan, siswa sudah bisa menciptakan teknologi-teknologi sains, dan pembelajarannya sangat menyenangkan, Bu, sehingga anak-anak itu bahagia,” tambah Ibu Dame. Sekolah tersebut berencana memperluas penerapan STEM ke seluruh 16 kelas mereka.
Saat ini, STEM baru diterapkan di dua kelas (4C dan 5B) sebagai bagian dari program pelatihan dinas. Pihak sekolah mengkonfirmasi memiliki total 365 siswa yang terbagi dalam 16 kelas:
Menurut Ibu Dame, perubahan yang paling signifikan adalah semangat belajar dan keingintahuan anak yang meningkat. “Semua anak itu tidak ada yang duduk saja, yang diam. Mereka lebih kreatif,” tegasnya, mencontohkan kreasi mobil dari botol plastik bekas menggunakan magnet.
Antusiasme Guru Melampaui Target
Renny Laksmy Bay Sinaga, S.Pd, Ketua Team Geulisnum Pisan (Gerakan Literasi Numerasi Pematang Siantar) sekaligus Fasilitator Daerah Tanoto Foundation, menjelaskan bahwa antusiasme guru menjadi alasan utama mengapa SD ini dipilih sebagai mitra.

“Salah satunya adalah respons mereka terhadap pembelajaran STEM. Mereka langsung mengadakan pelatihan juga di sekolah ini, guru-guru mengaplikasikan pelatihan yang sudah kita berikan, dan inilah hasilnya,” kata Renny didampingi Team Geulisnum Pisan lainnya diantaranya: Patrcia Sirait,S.Pd (Sekretaris), Berliana Saragih (Bendahara) dan Sri Rezeki,S.Pd (Anggota)
Tim FASDA yang sudah dilatih sejak 2018 ini mengadakan pendampingan selama kurang lebih 3 bulan, dimulai 6 Agustus 2025 dan berakhir 30 Oktober 2025. Respons guru sangat luar biasa, bahkan melampaui rencana awal.
“Justru mereka yang meminta supaya dilatih secara menyeluruh. Rencana awal kita hanya untuk 3 guru, tapi mereka meminta teman-teman yang lain juga dilatih,” ungkap Renny. Hasil pendampingan selama 3 bulan ini bahkan di luar ekspektasi tim fasilitator.
STEM dan Numerasi Kehidupan Sehari-hari
Pendekatan STEM yang diterapkan bersifat menyeluruh, tidak hanya fokus pada Sains atau Matematika saja, namun mengintegrasikan semua elemen (Sains, Teknologi, Engineering/Rekayasa, dan Matematika).
Renny menjelaskan, fokus utama numerasi adalah pengaplikasian konsep matematika di dalam kehidupan sehari-hari.
“Numerasinya itu adalah konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya, membuat makanan, berapa takaran tepungnya, atau menghitung berapa lama anak itu berjalan kaki dari rumahnya ke sekolah,” jelasnya. Saat ini, sudah ada 17 sekolah di Kota Pematangsiantar dari tiga kecamatan (Siantar Utara, Siantar Barat, dan Siantar Sitalasari) yang telah didampingi oleh Geulisnum Pisan.
Harapan: Sekolah Mitra Jadi Model
Harapan besar tim FASDA Tanoto Foundation adalah menjadikan sekolah mitra ini sebagai model. “Kami harapkan sekolah inilah nantinya menjadi contoh kepada sekolah-sekolah yang ada di sekitar sini. Jadi, sekolah ini jadi model,” tutup Renny. Timnya, yang beranggotakan perempuan semua dan menamakan diri Geulisnum Pisan, siap mendampingi sekolah lain untuk menyebarkan inovasi pendidikan STEM ini.(Siong)


