Jakarta, SeputarSumut – Tiongkok menunjukkan unjuk kekuatan militer secara besar-besaran di kawasan Asia Timur dengan mengerahkan 100 unit kapal penjaga pantai dan juga pasukan militer. Pengerahan ini terjadi di tengah situasi yang kian memanas antara Tiongkok dan Jepang.
Menurut laporan intelijen yang didapatkan, Tiongkok tercatat mengoperasikan lebih dari 90 kapal di perairan Asia Timur per Kamis (4/12) pagi waktu setempat. Angka ini sebetulnya menunjukkan sedikit penurunan dibandingkan hari-hari sebelumnya yang dilaporkan mencapai 100 kapal.
Dunia Internasional: Tiongkok Kerahkan Ratusan Kapal, Asia Timur Memanas
Kapal-kapal milik Tiongkok tersebut berlayar di perairan yang terbentang mulai dari Laut Kuning, Laut China Timur, hingga ke perairan Laut China Selatan (LCS), demikian diungkapkan oleh empat sumber keamanan.
Kewaspadaan Taiwan meningkat karena pengerahan pasukan kali ini dilaporkan lebih masif dibandingkan dengan bulan Desember pada tahun sebelumnya.
Seorang pejabat, sebagaimana dikutip oleh Reuters, menyebutkan bahwa pengerahan kekuatan tersebut “jauh melampaui kebutuhan pertahanan nasional Tiongkok dan menciptakan risiko bagi semua pihak.”
Menurut salah satu sumber, Tiongkok mulai meningkatkan jumlah kapal yang dikerahkan sejak tanggal 14 November. Peningkatan pengerahan ini bertepatan dengan munculnya protes terkait pernyataan yang dilontarkan oleh Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi.
Sumber yang sama juga mengungkapkan bahwa Beijing sedang menguji seberapa besar respons Taiwan dengan melakukan pengerahan pasukan yang skalanya belum pernah terjadi sebelumnya.
Aktivitas Tiongkok di kawasan ini sedang diawasi dengan ketat oleh sejumlah negara di Asia, kata sumber lainnya. Meskipun demikian, mereka menilai bahwa pengerahan kekuatan Tiongkok sejauh ini belum menimbulkan risiko yang signifikan.
Terkait situasi ini, Direktur Jenderal Biro Keamanan Nasional Taiwan, Tsai Ming Yen, berujar bahwa saat ini Tiongkok sedang memasuki musim latihan militer yang paling aktif.
Beberapa hari sebelumnya, Tiongkok juga dilaporkan telah melakukan simulasi serangan terhadap kapal asing. Simulasi tersebut melibatkan pengerahan jet tempur dan sejumlah kapal di area Selat Taiwan.
Selain itu, mereka juga melakukan latihan pemblokiran untuk mengantisipasi skenario pengerahan bantuan pasukan asing yang ditujukan untuk membela Taiwan.
”Oleh karena itu, kita harus mengantisipasi musuh seluas mungkin dan terus mencermati setiap perubahan dalam aktivitas terkait,” tegas Tsai Ming Yen saat ditanya tentang kemungkinan Tiongkok menggelar latihan khusus menjelang akhir tahun, sembari membeberkan bahwa per Rabu pagi, Tiongkok memiliki empat formasi angkatan laut yang aktif beroperasi di Samudra Pasifik, dan Taiwan terus mengawasi penuh pergerakan mereka.
Situasi di pulau tersebut dipastikan aman oleh Juru bicara Kepresidenan Taiwan, Karen Kuo. Karen menambahkan bahwa pemerintah Taiwan memiliki pemahaman penuh dan selalu terkini mengenai situasi keamanan di Selat Taiwan.
”Taiwan memiliki pemahaman dan dapat memastikan tidak ada kekhawatiran terhadap keamanan nasional,” ujar Karen. Ia juga menegaskan komitmen Taiwan untuk terus bekerja sama dengan mitra internasional guna mencegah terjadinya tindakan sepihak di kawasan.
Ketegangan hubungan antara Tiongkok dan Jepang yang memanas dipicu oleh pernyataan Takaichi mengenai Taiwan menjadi latar belakang munculnya pengerahan pasukan besar-besaran ini.
Pada awal November, PM Takaichi sempat menegaskan bahwa serangan bersenjata terhadap Taiwan dapat dijadikan dasar bagi Jepang untuk mengerahkan pasukannya, sebagai bagian dari konsep pertahanan kolektif.
Pernyataan tersebut membuat Kementerian Luar Negeri Tiongkok mendesak Takaichi untuk menarik kembali ucapannya. Namun, PM Jepang tersebut menolak untuk melakukannya, yang kian memperburuk hubungan kedua negara.
Di saat yang bersamaan, pemerintahan Taiwan di bawah Presiden Lai Ching te berkomitmen untuk memodernisasi persenjataan mereka, khususnya di bidang pertahanan udara, dengan meningkatkan anggaran pertahanan selama delapan tahun ke depan sebesar $40 miliar AS.
Tiongkok secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian dari kedaulatan mereka. Sementara itu, pulau tersebut terus berupaya mencapai kemerdekaannya. Tiongkok telah berulang kali menegaskan bahwa mereka akan menggunakan segala cara, termasuk penggunaan kekuatan paksa jika diperlukan, untuk mempertahankan Taiwan.(*/cnni)


