Jakarta, SeputarSumut – Presiden AS Donald Trump secara resmi mengumumkan perubahan nama Departemen Pertahanan menjadi “Departemen Perang” pada Jumat (5/9) lalu. Keputusan ini dinilai sebagai langkah simbolis yang mengirimkan “pesan kemenangan” ke seluruh dunia. Sehari setelahnya, Trump mengancam akan mengerahkan kekuatan penuh Departemen Perang ke Chicago, Illinois, yang memicu kemarahan publik dan kritik dari para pejabat setempat.
Ancaman ke Chicago dan Reaksi Publik
Dunia Internasional: Trump Resmikan Nama Baru ‘Departemen Perang’, Ancam Kerahkan Pasukan ke Chicago
Ancaman terbaru Trump ini diungkapkannya melalui platform media sosial, Truth Social. “Chicago akan mencari tahu mengapa ini disebut Departemen Perang,” tulis Trump, mengisyaratkan bahwa ia akan mengerahkan pasukan federal, mirip dengan yang dilakukannya di Washington dan Los Angeles.
Pernyataan tersebut segera memicu reaksi keras dari Gubernur Illinois, JB Pritzker. Dalam sebuah postingan di X, Pritzker mengecam keras pernyataan Trump. “Presiden Amerika Serikat mengancam untuk berperang dengan sebuah kota di Amerika. Ini bukan lelucon. Ini tidak normal,” tulisnya. Pritzker juga menegaskan bahwa Illinois tidak akan tunduk pada intimidasi.
Sebagai respons, ribuan pengunjuk rasa anti-Trump turun ke jalan-jalan di Chicago pada Sabtu (6/9). Mereka membawa spanduk bertuliskan “Hentikan Rezim Fasis Ini!” dan “Tidak Ada Trump, Tidak Ada Pasukan,” sambil berbaris melewati Menara Trump sebagai bentuk protes.
Latar Belakang dan Konteks Pengerahan Pasukan
Ancaman pengerahan pasukan di Chicago merupakan kelanjutan dari pola yang telah dimulai Trump sejak Juni lalu. Pengerahan pertama terjadi di Los Angeles, diikuti oleh Washington pada Agustus setelah ia mengumumkan “keadaan darurat kejahatan.” Langkah-langkah ini memicu tantangan hukum dan protes, karena dinilai sebagai unjuk kekuatan otoriter oleh para kritikus.
Para demonstran di Washington DC, tempat pasukan Garda Nasional telah dikerahkan, membawa bendera AS yang terbalik. Aksi ini merupakan simbol tradisional bahwa negara sedang menghadapi bahaya eksistensial. Mereka menuntut diakhirinya “pendudukan” yang dilakukan oleh pasukan federal dan agen-agen dari Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE).
Taktik yang digunakan oleh agen-agen ini di Los Angeles juga memicu kecaman keras dari pejabat lokal. Para agen sering terlihat mengenakan topeng, mengendarai mobil tanpa tanda, dan menahan orang di jalanan tanpa surat perintah yang jelas.
Makna Simbolis Nama ‘Departemen Perang’
Keputusan Trump untuk mengganti nama Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang semakin memperkuat pesan agresifnya. Menurut Menteri Pertahanan, Pete Hegseth, langkah ini menunjukkan bahwa AS tidak akan ragu menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuannya.
Kutipan Trump, “Saya suka bau deportasi di pagi hari,” yang ia tulis di media sosial, merujuk pada kalimat ikonis dari film Perang Vietnam, “Apocalypse Now,” di mana seorang letnan kolonel mengatakan bahwa ia “menyukai bau napalm di pagi hari.” Perbandingan ini, yang muncul di tengah ancaman pengerahan pasukan, menggarisbawahi nada konfrontatif yang ingin ditunjukkan Trump.
Ancaman serupa juga telah dilontarkan Trump terhadap kota-kota lain yang dikuasai Partai Demokrat, seperti Baltimore dan New Orleans, menunjukkan bahwa kebijakan ini akan terus berlanjut.(*/cnni)


