Jakarta, SeputarSumut – Guna mengantisipasi meluasnya penyebaran penyakit, sekolah-sekolah diminta untuk kembali menerapkan protokol kesehatan secara disiplin di lingkungan pendidikan. Hal ini ditegaskan oleh Anggota Komisi X DPR RI, Habib Syarief, menyusul tren peningkatan kasus influenza A (H3N2) atau superflu yang kini melanda sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Langkah antisipatif ini dinilai mendesak karena sekolah merupakan ruang publik dengan intensitas interaksi yang sangat tinggi. Menurut Habib, peningkatan kasus superflu tidak boleh dianggap sepele karena sekolah berpotensi besar menjadi titik penularan. Upaya pencegahan sejak dini harus segera dilakukan agar wabah tidak semakin meluas di lingkungan sekolah.
Sorot Politik: Waspada Superflu, Prokes di Sekolah Diperketat
Perlindungan ekstra bagi siswa menjadi prioritas utama mengingat anak-anak termasuk kelompok yang sangat rentan terhadap penyakit menular. Lingkungan sekolah yang padat dengan berbagai aktivitas menuntut adanya jaminan kesehatan agar hak anak untuk menuntut ilmu dalam kondisi aman dan sehat tetap terpenuhi dengan baik.
Dalam aktivitas belajar mengajar, Habib menekankan bahwa kebiasaan dasar seperti mencuci tangan dan menggunakan masker harus dibangkitkan kembali. Ia menyoroti keberadaan fasilitas cuci tangan di pintu masuk maupun ruang kelas yang sudah tersedia di banyak sekolah. Fasilitas tersebut harus benar-benar diaktifkan secara fungsional, bukan hanya sekadar pajangan atau formalitas belaka.
Secara teknis, pihak sekolah didorong untuk membiasakan siswa mencuci tangan dengan sabun antiseptik minimal selama 20 detik sebelum memulai pelajaran. Peran guru dan manajemen sekolah sangat krusial dalam melakukan pengawasan agar pola hidup bersih dan sehat (PHBS) ini dapat konsisten dijalankan oleh seluruh warga sekolah.
Penggunaan masker juga dipandang sebagai metode yang sangat efektif untuk menekan risiko transmisi virus di ruang kelas. Habib menjelaskan bahwa pemakaian masker secara benar dapat membantu mencegah penyebaran virus yang menyebabkan gejala superflu, seperti demam tinggi dan nyeri sendi.
Di sisi lain, kesadaran orang tua memiliki peran yang tidak kalah penting dalam memutus rantai penularan. Habib mengimbau agar para orang tua tidak memaksakan anak yang sedang dalam kondisi kurang sehat untuk berangkat ke sekolah. Jika anak menunjukkan gejala sakit, langkah terbaik adalah beristirahat di rumah demi kebaikan bersama dan mencegah penularan ke siswa lainnya.
Upaya sosialisasi mengenai bahaya dan pencegahan superflu juga perlu digencarkan kepada seluruh elemen pendidikan, mulai dari siswa hingga tenaga pendidik. Edukasi yang masif diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan. Langkah ini murni merupakan perlindungan agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung secara nyaman, aman, dan sehat.
Sebagai solusi jangka menengah, Habib mendorong adanya kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kementerian Kesehatan untuk menjalankan program vaksinasi influenza di sekolah. Mengingat vaksinasi adalah bentuk pencegahan yang terbukti efektif secara medis, sinergi lintas kementerian sangat diharapkan agar program vaksinasi bagi siswa dapat segera diwujudkan.(*/dpr)


