Jakarta, SeputarSumut — Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat meluncurkan aksi pemboman ke wilayah Iran menyusul laporan adanya penyerangan terhadap sejumlah kapal komersial di kawasan Selat Hormuz pada Selasa (7/7). Aksi militer ini dikonfirmasi langsung oleh Komando Pusat AS (CENTCOM) yang mengumumkan bahwa “serangkaian serangan dahsyat” telah dilepaskan menuju wilayah Iran “untuk memberi hukuman berat atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal-kapal komersial yang diawaki warga sipil tak berdosa di jalur perairan internasional.”
Melalui rilis resmi di platform media sosial X, perwakilan CENTCOM menegaskan bahwa tindakan tegas ini diambil sebagai respons atas agresi sepihak. Mereka menyatakan, “Serangan AS ini sebagai tanggapan atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang sedang melintasi Selat Hormuz. Agresi yang ditunjukkan Iran tidak beralasan, berbahaya, dan merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata,”
Dunia Internasional: Amerika Serikat Lancarkan Serangan Udara ke Iran Pasca Insiden Kapal Komersial di Selat Hormuz
Dampak dari serangan tersebut terekam dalam sebuah rekaman video yang tersebar luas di lini masa media sosial dan telah diverifikasi oleh lembaga penyiaran NBC News, yang memperlihatkan rentetan ledakan besar mengguncang sebuah pelabuhan yang terletak di Kota Bandar Abbas, Iran bagian selatan. Selain itu, kantor berita pemerintah Iran, Press TV, mengabarkan bahwa suara dentuman keras juga terdengar dengan jelas di area pelabuhan Sirik serta kawasan Pulau Qeshm. Sementara itu, stasiun televisi pemerintah IRIB menambahkan informasi bahwa fasilitas menara telekomunikasi di Kota Bandar Abbas tampaknya turut menjadi salah satu target operasi.
Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari seorang pejabat Amerika Serikat, pihak militer Washington memusatkan sasaran gempuran pada berbagai aset strategis, yang mencakup sektor pertahanan udara, titik pengawasan pantai, instalasi rudal permukaan-ke-udara, serta posisi rudal jelajah anti-kapal. Tidak hanya itu, lokasi peluncuran drone serta fasilitas pelabuhan utama milik Iran ikut dibombardir menggunakan armada jet tempur milik Angkatan Udara dan pesawat taktis milik Angkatan Laut AS. Di sisi lain, laporan dari Press TV membenarkan adanya proyektil yang menghantam kawasan dermaga komersial di Sirik, lokasi dermaga perikanan di desa Ziarat, serta merusak sejumlah kapal milik nelayan sipil di Bandar Abbas.
Merujuk pada laporan media Al Jazeera, wilayah Bandar Abbas memegang peranan krusial sebagai markas komando utama bagi pasukan angkatan laut Iran yang berada di sisi utara Selat Hormuz, sehingga menjadikan kota pesisir tersebut sebagai sentral pergerakan militer Iran dalam mengawasi sekaligus mengambil tindakan taktis terkait Selat Hormuz. Dinamika di kawasan ini semakin kompleks sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada 8 April, di mana Iran memegang kendali atas pelayaran armada kapal tanker di Selat Hormuz, sementara pihak Amerika Serikat secara bersamaan memberlakukan kebijakan blokade di pelabuhan Bandar Abbas guna menyetop aktivitas ekspor komoditas minyak Iran.
Sejumlah pengamat dan analis memperkirakan bahwa porsi lebih dari 90 persen pengiriman pasokan minyak mentah milik Iran dialokasikan melalui Selat Hormuz. Oleh sebab itu, Bandar Abbas bertransformasi menjadi lokasi yang teramat vital dalam menopang sumber pendapatan pemerintah, termasuk menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang dimanfaatkan oleh Teheran untuk menghindari jerat sanksi internasional, khususnya dalam mengapalkan komoditas minyak menuju pasar China.
Sama halnya dengan Bandar Abbas, kota pesisir Sirik juga memiliki urgensi yang besar bagi Iran guna melakukan pemantauan terhadap Selat Hormuz. Berlokasi di sebelah timur Selat Hormuz, wilayah Sirik merupakan tempat berdirinya pangkalan pertahanan angkatan laut milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Di samping itu, wilayah Pulau Qeshm juga menjadi area yang vital bagi Teheran karena letak geografisnya yang berjarak sekitar 22 kilometer di sebelah selatan Bandar Abbas. Menjadi pulau paling besar di kawasan Teluk Persia yang langsung menghadap ke Selat Hormuz, Pulau Qeshm dimanfaatkan sebagai pusat kendali operasi utama bagi unit angkatan laut serta angkatan udara dari kelompok IRGC.
Berdasarkan informasi yang beredar, kawasan Pulau Qeshm menyimpan jaringan infrastruktur bawah tanah yang sering disebut oleh banyak kalangan sebagai ‘kota rudal’. Kompleks instalasi militer tersebut dibangun di area medan yang terjal di pulau itu, memanfaatkan formasi geologi berupa sistem jaringan gua yang sangat luas serta terlindung secara alami, yang menurut beberapa laporan dirancang sanggup menahan gempuran udara dalam skala besar. Lokasi pertahanan ini diyakini menjadi tempat penyimpanan bagi berbagai persenjataan seperti rudal balistik anti-kapal, rudal jelajah, sistem ranjau laut, drone bawah air, hingga unit kapal serang cepat yang biasa digunakan dalam operasi maritim bergaya kawanan, sekaligus menjadi basis operasi garis depan bagi aktivitas drone milik Iran.(*/cnni)


