seputar-Jakarta | Jepang mencabut peringatan tsunami di lima wilayah tetapi masih menerapkan peringatan tersebut di Prefektur Miyazaki.
“Jepang mencabut tsunami untuk wilayah-wilayah Barat kecuali di Prefektur Miyazaki,” demikian laporan Reuters, dikutip media lokal Jepang.
Dunia Internasional: Jepang Cabut Peringatan Usai Tsunami Terjang Lima Wilayah
Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang sejumlah wilayah di Jepang pada hari ini, Kamis (8/8/2024).
Badan Meteorologi dan Geofisika Jepang segera mengeluarkan peringatan tsunami menyusul gempa berkekuatan M 7,1 tersebut, dikutip dari Kyodo News.
Wilayah dengan peringatan tsunami antara lain di Miyazaki, Ehime, Kochi, Oita, Kagoshima timur, dan Kepulauan Tanegashima-Yakushima.
Di Miyazaki ketinggian air mencapai 50 cm, di Nichinan Aburatsu mencapai 40 cm, dan di Hyuga Hozoshima dengan ketinggian 10 cm. Sementara itu, di Tosa Shimizu, Kochi dengan ketinggian 20 cm.
Tsunami juga menerjang di wilayah Tanegashima Island Kumano, Kagoshima, dengan ketinggian 10 cm
Gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang sebagai gempa berkekuatan 6 skala intensitas seismik Jepang mengguncang provinsi Miyazaki, Jepang, Kamis (8/8). Gempa berpusat di Laut Hyuganda dengan kedalaman 30 kilometer.
Tsunami Tak Sampai ke Indonesia
Tsunami usai gempa bumi dengan Magnitudo 7,1 di Jepang disebut tak akan sampai ke Indonesia.
Daryono, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menjelaskan gempa Jepang kali ini dirasakan paling kuat di Prefektur Miyazaki dengan skala intensitas mencapai VI-VII MMI (Mercalli Ontensity Scale) dan berpotensi menimbulkan kerusakan.
“Hasil pemodelan tsunami TOAST oleh BMKG menunjukkan bahwa gempa ini dapat memicu tsunami dengan potensi ancaman WASPADA dengan tinggi kurang dari setengah meter (0,5 meter < ) di sekitar pusat gempa,” ujar dia, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (8/8).
“Dan tidak berpotensi tsunami di wilayah Indonesia,” imbuh dia.
Daryono mengungkap gempa ini bisa memicu tsunami di Jepang lantaran dipicu sejumlah faktor.
Yakni, pusat gempa (episenter) ada di laut dan termasuk gempa dangkal. Tepatnya, kedalaman 39 km di laut.
Selain itu, mekanisme gempanya berupa penunjaman lempeng (subduksi) dan sesar naik. Artinya, blok batuan tertentu naik akibat penunjaman itu.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang diduga dipicu aktivitas subduksi Nankai Trough dengan mekanisme sesar naik (thrust fault),” urai dia. (cnnindonesia/ss)


