seputar-Jakarta | Mantan Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan 12, Jusuf Kalla, mengaku kaget dengan mundurnya Airlangga Hartarto dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Hal tersebut disampaikan JK saat wawancara dengan salah satu media nasional yang videonya viral di Twitter hingga Senin 12 Agustus 2024 pagi WIB.
Salah satu aspek yang membuat JK kaget adalah karena Airlangga pada dasarnya sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Menurut JK, skala bagus atau tidaknya Ketua Umum Partai adalah ketika mereka bisa berhasil di Pemilu dan mendapatkan kursi di DPR, Airlangga sukses tentang itu.
Sorot Politik: JK: Ingin Jadi Ketum Golkar Harus Punya Modal Rp500 Miliar
Oleh sebab itu, JK yakin jika mundurnya Airlangga pasti karena seuatu yang lebih kuat lagi. “Airlangga sudah berhasil memenangkan Prabowo dengan Gibran, sesuatu prestasi yang tentunya dengan usaha dan pengorbanan, dia mundur pasti ada alasan yang lebih kuat lagi,” katanya.
“Ketua Partai diukur dari keberhasilannya di Pemilu, di pemerintahan di mana dia menjabat. Kita terkejut, mungkin ada alasan yang sangat kuat sehingga dia harus mundur,” ia menambahkan.
Jusuf Kalla pun kembali menekankan bahwa mundurnya Airlangga mungkin disebabkan karena ada tekanan atau fungsi yang lebih kuat lagi. “Seperti dikatakan dia berhasil meningkatkan kursi pemilu dpr baik di pusat maupun daerah, sehingga tidak ada alasan dari kader-kader untuk turun terkecuali ada tekanan yang kuat dari fungsi yang lebih kuat lagi,” lanjutnya.
Airlangga Hartarto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar di Jakarta, Minggu 11 Agustus 2024. Dalam video resmi yang disiarkan Partai Golkar di Jakarta, Airlangga menjelaskan alasan dia mundur karena ingin menjaga keutuhan Partai Golkar dan memastikan stabilitas selama transisi pemerintahan dari Presiden RI Joko Widodo ke Presiden Terpilih Prabowo Subianto.
“Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, serta atas petunjuk Tuhan Yang Maha Besar, maka dengan ini saya menyatakan pengunduran diri sebagai ketua umum DPP Partai Golkar,” kata Airlangga dalam video tersebut.
Modal Jadi Ketum
Kini mulai muncul nama-nama yang berpotensi menggantikan Airlangga Hartarto sebagai Golkar 1.
Ketua Dewan Pakar DPP Partai Golkar Agung Laksono menyebut beberapa nama yang pantas maju mencalonkan diri sebagai ketua umum partai menggantikan Airlangga.
“Ya di situ ada Agus Gumiwang, ada Bambang Soesatyo [Bamsoet], yang artinya (keduanya) adalah pengurus-pengurus Partai Golkar, di DPP sekarang ya. Kemudian, ada juga pengurus lainnya, ada Pak Bobby [Adhityo Rizaldi], ada Pak Firman Soebagyo, banyak yang bisa jadi dipilih dari dalam pengurus,” kata Agung Laksono dilansir dari Antara, Minggu (11/8/2024).
Agus Gumiwang, Bambang Soesatyo, dan Firman Soebagyo saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar. Sementara Bobby yang disebut Agung kemungkinan merujuk ke Ketua DPP Partai Golkar Bobby Adhityo Rizaldi.
Meski demikian, keputusan siapa pengganti Airlangga Hartarto akan diputuskan melalu Musyawarah Nasional (Munas).
Bicara soal jadi Ketum Golkar, Jusuf Kalla pernah membocorkan berapa biaya yang dibutuhkan.
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, mengatakan bahwa untuk menjadi Ketum Golkar harus punya modal Rp500 hingga Rp600 miliar.
“Kalau sekarang Anda ingin menjadi ketua [umum] Golkar, jangan harap kalau Anda tidak punya modal Rp500 – Rp600 miliar,” ujar Kalla dalam seminar bertajuk Pemuda untuk Politik di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/7/2023).
Meski demikian, tidak dirinci untuk apa saja uang sebanyak setengah triliun tersebut. (kontan/ss)

