Medan — Suasana haru menyelimuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKBM) Universitas Satya Terra Bhinneka pada Selasa (9/9). Dalam sesi ramah tamah orang tua mahasiswa, cerita-cerita perjuangan dari keluarga kurang mampu yang berhasil menguliahkan anak mereka melalui beasiswa KIP Kuliah menjadi sorotan utama, terutama saat dr Sofyan Tan, anggota Komisi X DPR RI, hadir di tengah-tengah mereka.
Seorang pengemudi ojek online, Achmad Fadil Ruru, spontan berdiri untuk berbagi kisahnya. Dengan suara bergetar menahan tangis, ia menceritakan bagaimana ia sempat pesimis anaknya, Anugrah Fadillah Ruru, bisa diterima beasiswa KIP Kuliah mengingat banyaknya pendaftar. “Sabar la ya nak, banyak berdoa saya bilang. Ribuan yang daftar,” ujarnya menirukan pesannya kepada sang anak. Namun, kabar gembira datang beberapa bulan kemudian, anaknya diterima di Prodi Bisnis Digital. “Allahu Akbar, terimakasih ya Allah,” ucapnya penuh syukur. Ia pun berpesan kepada para mahasiswa untuk tekun belajar, mengingat banyak orang lain yang ingin mendapatkan kesempatan serupa.
Sorot Politik: Kisah Haru Orang Tua Mahasiswa Penerima KIP Kuliah di Medan, dr Sofyan Tan Beri Pesan Menyentuh
Perjuangan Hidup Berbuah Manis
Kisah serupa juga datang dari Marta Matondang, seorang ibu tunggal yang berjualan. Ia mengungkapkan betapa sakitnya menjadi orang susah, bahkan sering diremehkan oleh keluarga sendiri karena dianggap tidak akan mampu menguliahkan anaknya. Namun, berkat kegigihan sang anak, Rita Afni br Tarigan, yang gigih mencari informasi, akhirnya ia berhasil diterima di Universitas Satya Terra Bhinneka.
Santi Asriani, seorang ibu rumah tangga yang suaminya berjualan ikan, juga berbagi pengalaman pahit. Dengan enam orang anak, ia kerap dicemooh orang lain yang meragukan kemampuannya menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Namun, dengan tekad kuat, ia mendaftarkan anaknya, Rifki Aziz, yang akhirnya diterima di Prodi Bisnis Digital. “Saya kepingin anak saya ini nanti lulus kuliah jadi PNS, jadi jaksa Pak,” ujarnya penuh harap.
Cerita inspiratif juga datang dari luar Sumatera Utara. Rima Melati, seorang ibu rumah tangga dari Panipahan, Riau, menceritakan perjuangan keluarganya sebagai petani hingga akhirnya sang anak, Fahmi Panjaitan, berhasil diterima di Prodi Informatika. Ia berpesan kepada anaknya untuk terus berjuang bersama agar bisa menjadi sarjana dan sukses.
Pesan dr Sofyan Tan: Jadilah Insan yang Berintegritas dan Peduli
Menanggapi cerita-cerita ini, dr Sofyan Tan, yang juga Ketua Dewan Pembina Yayasan Perguruan Sultan Iskandar Muda (YPSIM), memberikan dua pesan penting kepada orang tua dan mahasiswa.
Pertama, ia meminta orang tua untuk berjanji mengawasi anak-anaknya agar serius berkuliah dan belajar keras. Ia menegaskan, mahasiswa yang tidak masuk kuliah tiga kali berturut-turut tanpa alasan jelas akan diberhentikan.
Kedua, ia berpesan agar para sarjana penerima beasiswa, kelak jika sudah sukses, membantu orang-orang miskin tanpa melihat latar belakang agama, suku, atau ras. Ia mengajak mereka mengikuti jejaknya.
Di akhir pidatonya, dr Sofyan Tan mengungkapkan perasaannya yang sempat merenung untuk mundur dari jabatannya sebagai anggota DPR karena adanya stigma negatif terhadap lembaga tersebut. Namun, ribuan orang tua dan mahasiswa serentak menolak permintaannya. “Kami pak. Kami siap menjaga bapak,” jawab mereka.
Dengan penuh haru, Sofyan Tan menutup pidatonya dengan menyebut para orang tua dan mahasiswa sebagai “saudara kandung”-nya. Ia berpesan agar mereka tidak menyerah pada kemiskinan dan terus memacu semangat untuk mengubah nasib keluarga menjadi lebih baik.(Siong)


