seputar-Jakarta | Sejumlah kejanggalan dalam pengamanan terendus pasca-insiden penembakan eks presiden Amerika Serikat Donald Trump di Pennsylvania, Sabtu (13/7/2024) lalu.
Mulai dari polisi lokal yang sempat mendekati pelaku penembakan hingga aparat kurang koordinasi dengan secret service atau pasukan pengamanan presiden (paspampres).
Dunia Internasional: Terendus 2 Kejanggalan Penembakan Trump
Berikut deret kejanggalan pengamanan kala insiden penembakan Donald Trump.
1. Polisi sempat lihat dan dekati pelaku
Menurut Sheriff Butler County, Michael T. Slupe, seorang aparat kepolisian sempat melihat dan mendekati pelaku sebelum insiden penembakan terjadi.
Slupe menyebut aparat tersebut sudah melihat sang pelaku berada di atap selama kampanye Trump berlangsung.
Polisi sebelumnya menerima telepon mengenai orang mencurigakan di luar perimeter kampanye. Dalam telepon itu, tak ada petunjuk bahwa orang itu memiliki pistol.
Polisi pun bergegas mencari orang mencurigakan tersebut. Ketika hendak ke atap, petugas berupaya membantu petugas lain memanjat pinggiran atap. Namun, belum selesai menapak, sang pelaku penembakan menyadari keberadaan polisi dan berbalik menghadap aparat.
Ia langsung menodongkan senjata ke arah polisi. Polisi akhirnya mengurungkan niat untuk naik guna menyelamatkan nyawanya sendiri.
Setelah polisi pergi, pelaku pun memberondong tembakan ke arah Trump dan mengenai telinga sang eks presiden.
2. Kurangnya koordinasi dengan secret service dan lembaga lain
Kepada CNN, Slupe mengakui pihaknya kurang berkoordinasi dengan aparat kepolisian terkait pengamanan kampanye Trump.
Slupe mengatakan aparat tidak diberitahu mengenai informasi atau tanda bahaya menjelang kampanye.
Sekitar sepekan sebelum kampanye, ada pertemuan besar di mana Dinas Rahasia AS, polisi negara bagian, polisi kota, tim penjinak bom, dan lembaga penegak hukum lainnya membahas peran dan tanggung jawab masing-masing dalam pengamanan kampanye.
“Setiap orang yang memiliki peran potensial ada dalam pertemuan itu,” kata Slupe kepada CNN.
Selain pertemuan tersebut, ada pertemuan lain pula untuk persiapan keamanan. Menurut Slupe, hanya di pertemuan ini semua level lembaga pengamanan hadir.
“Ini sedang diselidiki. Pada akhirnya kami akan mengambil pelajaran dari peristiwa ini,” kata Slupe. (cnnindonesia)
Teori Konspirasi
Sementara itu teori konspirasi tentang penembakan Donald Trump menyebar luas di X, yang dulunya bernama Twitter. Ini terjadi saat pemilik medsos itu, Elon Musk, mengungkap dukungannya pada mantan Presiden AS itu.
Pada Sabtu (13/7), Trump ditembak saat berorasi dalam kampanye di Pennsylvania, AS. Ia tak mati, hanya berdarah pada telinga kanan.
Usai penembakan itu, pemilik X, Elon Musk, mengunggah pernyataan bahwa dia “mendukung sepenuhnya” mantan presiden tersebut.
Bloomberg merilis laporan bahwa Musk menyumbang ke super PAC yang merupakan mendukung Trump, dan memberikan “jumlah yang cukup besar” agar terpilih kembali.
Dalam beberapa tahun terakhir, Musk banyak mempromosikan teori konspirasi ‘great replacement’ (pengganti yang hebat) dan mendukung white pride. Dukungannya menambah semakin banyak suara berpengaruh di Silicon Valley yang mempromosikan kampanyenya.
Usai insiden Trump, Platform miliknya itu pun memviralkan sejumlah tagar, termasuk ‘#falseflag’ dan ‘staged’ kepada pengguna.
Musk pun gigih menggadang-gadang “kebebasan berpendapat” di platform media sosial itu, termasuk informasi yang salah seperti di atas.
Tiap trending topic yang muncul di X yang terkait Trump dipenuhi dengan teori konspirasi meski tanpa bukti yang kuat.
Saat mengklik salah satu topik, contohnya, Anda akan menemukan sebagian besar postingan pendek dari pengguna X yang mengatakan bahwa penembakan tersebut terlihat palsu atau sebuah aksi. Tak ada bukti konkret.
Namun, dengan menempatkan topik tersebut ke dalam area trending topik X, konspirasi tersebut akan menyebar ke lebih banyak orang.
Platform media sosial besar lainnya, melansir The Verge, menangani situasi ini dengan lebih baik segera setelah penembakan tersebut. YouTube menampilkan klip berita dan sebagian besar mengarahkan hasil penelusuran ke laporan berita dan pembuat konten terverifikasi.
Hasil pencarian Facebook terutama mengarah ke outlet berita; platform ini menghapus bagian topik yang sedang tren pada 2018 karena keluhan terus-menerus tentang kurasinya.
Topik-topik tersebut kadang-kadang menampilkan postingan terkait konspirasi di atas topik yang sedang tren untuk insiden tersebut.
X tidak merespons permintaan konfirmasi terkait hal ini. Email ke tim medianya berbalas komentar otomatis yang mengatakan, “Busy now, please check back later.”
Perusahaan, sejauh pengamatan, mengambil peran sebagai pusat diskusi, baik itu akurat atau tidak, dalam berbagai isu.
Bahkan, ketika topik teori konspirasi terus menjadi tren, akun resmi X memposting catatan singkat malam ini yang hanya mengatakan, “alun-alun kota global.” (cnnindonesia)


