Jumat, Juli 3, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ragam

Bumi Bakal Kedatangan ‘Bulan Baru’, Ini Penampakannya

Oleh Redaksi 15
Senin, 23 September 2024
Foto: Bumi bakal kedatangan tamu yang menjadi 'Bulan' kedua dalam bentuk asteroid kecil pada periode September ini.

Bumi bakal kedatangan tamu yang menjadi 'Bulan' kedua dalam bentuk asteroid kecil pada periode September ini.

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar – Jakarta | Bumi bakal kedatangan tamu yang menjadi ‘Bulan’ kedua dalam bentuk asteroid kecil pada periode September ini. Simak penjelasannya.

“Bulan mini” ini merupakan asteroid bernama 2024 PT5, yang masih bagian dari sabuk asteroid Arjuna. Nantinya, Bulan mungil ini akan berkunjung selama dua bulan sebelum kembali ke rumahnya.

Pernik Ragam: Bumi Bakal Kedatangan ‘Bulan Baru’, Ini Penampakannya

Iklan Indako SeputarSumut

“Benda yang akan mengunjungi kita itu milik sabuk asteroid Arjuna, sabuk asteroid sekunder yang terbuat dari bebatuan luar angkasa dan memiliki jalur orbit yang sangat mirip dengan Bumi dengan rata-rata jarak dari matahari yaitu sekitar 150 juta kilometer.” ucap Kepala tim riset dan profesor di Universidad Complutense de Madrid, Carlos de la Fuente Marcos, mengutip Space, Kamis (19/9).

Marcos menambahkan beberapa benda angkasa di Arjuna dapat mendekati Bumi dalam jarak yang dekat, yaitu sekitar 4,5 juta kilometer dan dengan kecepatan rendah sekitar 3,540 km/jam.

Dalam beberapa situasi, energi geosentris benda angkasa dapat menjadi negatif dan objek menjadi Bulannya Bumi untuk sementara. Fenomena ini disebut mini-moon.

Berita Terkait

Rekomendasi Makanan Berkhasiat Antikanker yang Terbukti Secara Ilmiah Menurut Penelitian

Ragam Manfaat Rebusan Daun Bawang untuk Kesehatan Tubuh dan Cara Mengolahnya

“Anda bisa melihat satelit sungguhan [Bulan] adalah pelanggan yang masuk ke dalam toko dan membeli barang, tapi objek seperti 2024 PT5 ini cuman seperti pelanggan yang melihat-lihat lalu pergi” jelas Marcos.

Bulan mini ini terbagi menjadi dua tipe berdasarkan durasi. Pertama adalah mini-moon panjang, saat asteroid akan mengorbit Bumi dalam satu putaran atau lebih. Tipe ini biasanya bertahan satu tahun atau lebih.

Kedua adalah tipe yang singkat, ketika asteroid hanya mengorbit Bumi dengan durasi singkat. Asteroid tidak sampai mengorbit satu putaran lalu terlepas dari Bumi. Tipe ini biasanya berdurasi beberapa hari, minggu, atau beberapa bulan.

Asteroid 2024 PT5 termasuk dalam tipe bulan mini singkat yang hanya ‘singgah’ dua bulan. Menurut Marcos beberapa bulan mini singkat yang tercatat sejarah adalah 1991 VG, 2022 NX1, dan banyak lainnya yang tidak dipublikasikan.

Planet ini juga pernah kedatangan bulan mini panjang, yang tercatat sejarah adalah 2006 RH120 dan 2020 CD3. Bulan mini tersebut dianggap langka karena hanya muncul setiap 10 atau 20 tahun.

Saat sedang berkunjung, 2024 PT5 ini tidak dapat terlihat oleh mata telanjang. Bahkan karena ukurannya yang kecil bulan mini tersebut hanya dapat dilihat dengan teleskop khusus.

Marcos menjelaskan untuk melihat benda ini kita setidaknya perlu menyiapkan teleskop berdiameter 76.2 cm dengan pendeteksi CCD atau CMOS.

“Objek tersebut terlalu kecil dan redup untuk teleskop amatir dan teropong. Namun, objek tersebut berada dalam rentang kecerahan teleskop yang biasa digunakan oleh para astronom profesional,” kata Marcos.

“Diperlukan teleskop dengan diameter minimal 30 inci ditambah detektor CCD atau CMOS untuk mengamati objek ini, teleskop 30 inci dan mata manusia di belakangnya tidak akan cukup,” pungkasnya. (CNN)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • OJK Sumut dan Pemkab Tapanuli Utara Jalin Kerja Sama Skema SEJAGAT Perkuat Ekosistem Jagung Rakyat
  • Hasil Piala Dunia 2026 Amerika Serikat vs Bosnia Bermain 10 Orang AS Menang 2-0 Lolos 16 Besar
  • Pembicaraan Tidak Langsung di Doha Capai Kemajuan Positif, AS dan Iran Siap Lanjutkan Dialog Usai Pemakaman Khamenei
  • Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp 2.640.000 Per Gram, Segini Rincian Lengkapnya
  • BMKG Pastikan Potensi Gelombang Panas Ekstrem Eropa Sangat Kecil Terjadi di Indonesia
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com