Jakarta, SeputarSumut — Kondisi saluran cerna berupa naiknya asam lambung atau GERD ternyata memiliki keterkaitan dengan munculnya sensasi telinga berdenging atau tinnitus. Fenomena ini terjadi akibat cairan asam lambung yang naik ke area kerongkongan dapat memengaruhi kondisi telinga tengah, sehingga memicu gangguan pendengaran tersebut.
Secara medis, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan gangguan sistem pencernaan di mana asam lambung kembali naik ke kerongkongan. Gejala umum yang sering dirasakan penderita meliputi sensasi panas di dada, rasa asam di tenggorokan, suara serak, batuk yang berlangsung kronis, hingga hambatan saat menelan makanan.
Pernik Ragam: Hubungan GERD dan Tinnitus: Penjelasan Mengapa Asam Lambung Bisa Menyebabkan Telinga Berdenging
Berdasarkan laporan Medical News Today, cairan asam yang naik tersebut diduga mampu menjangkau area telinga tengah. Ketika lapisan pelindung telinga terpapar cairan lambung, area tersebut menjadi lebih rentan mengalami kerusakan yang pada akhirnya menimbulkan gejala tinnitus. Tinnitus sendiri dideskripsikan sebagai munculnya suara denging, desisan, dengungan, atau bunyi klik di satu atau kedua telinga tanpa adanya sumber suara eksternal.
Sebuah riset pada tahun 2015 yang melibatkan 50 peserta dengan gangguan saluran eustachius menunjukkan bahwa GERD dapat memicu gejala pada laring atau pangkal tenggorokan, yang dikenal sebagai refluks laringitis. Dalam studi tersebut, para peneliti memaparkan bahwa keberadaan cairan lambung di wilayah laring berpotensi menyebabkan beragam masalah telinga, antara lain:
* gangguan tekanan telinga tengah,
* sinusitis,
* infeksi telinga,
* gangguan pendengaran,
* tinnitus.
Data penelitian tersebut juga mengestimasi bahwa sekitar 4 hingga 10 persen pasien yang berkonsultasi ke dokter THT sebenarnya mengalami gejala yang berkaitan dengan kondisi GERD. Selain itu, informasi dari Drugs menyebutkan riset dari Hebei Chinese Medical University di Shijiazhuang mengungkapkan bahwa dampak GERD dapat memicu penyakit pendengaran seperti Meniere, disfungsi vestibular, serta tinnitus. Berbagai studi lainnya turut memperkuat temuan bahwa paparan cairan lambung di telinga tengah meningkatkan risiko gangguan pendengaran secara signifikan.
Kaitan antara lambung dan telinga ini dimungkinkan karena organ telinga, hidung, dan tenggorokan terhubung melalui saluran khusus. Iritasi dan peradangan dapat terjadi di sekitar saluran tersebut jika asam lambung naik ke tenggorokan secara terus-menerus. Hal ini mengganggu fungsi saluran eustachius yang berperan menyeimbangkan tekanan telinga, sehingga muncul keluhan berupa telinga terasa penuh, nyeri, penurunan pendengaran, atau denging.
Gejala telinga berdenging yang dipicu oleh GERD umumnya muncul berbarengan dengan tanda-tanda refluks lainnya, seperti rasa panas di dada (heartburn), tenggorokan pahit, batuk kronis, suara serak, serta sensasi mengganjal di kerongkongan. Tinnitus ini sering kali dirasakan lebih intens setelah penderita makan dalam porsi berlebih atau saat langsung berbaring setelah makan.
Untuk menangani kondisi ini, fokus utama biasanya diarahkan pada pengendalian penyakit GERD tersebut. Tenaga medis umumnya memberikan resep obat golongan proton pump inhibitor (PPI), contohnya omeprazole, guna menekan produksi asam lambung. Penggunaan obat PPI ini dinilai efektif membantu mengurangi paparan asam pada telinga tengah berdasarkan hasil sejumlah penelitian, sehingga dapat mencegah gangguan pendengaran lebih lanjut.
Langkah pengobatan juga perlu didukung dengan modifikasi gaya hidup. Penderita disarankan untuk tidak langsung berbaring usai makan, menghindari konsumsi makanan dalam porsi besar, serta membatasi makanan pedas, berlemak, dan kafein. Menjaga pola tidur yang teratur dan berat badan ideal juga menjadi faktor penting dalam pemulihan. Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami telinga berdenging yang menetap disertai gejala asam lambung lainnya guna mendapatkan diagnosis yang akurat.(*/cnni)


