Jakarta, SeputarSumut — Komite Nasional Keselamatan Transportasi atau KNKT saat ini sedang mendalami adanya dugaan gangguan pada sistem persinyalan yang ditengarai menjadi pemicu kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Hingga saat ini, tim investigator masih berada di lokasi kejadian untuk mengumpulkan data lapangan guna mengungkap faktor utama di balik insiden tersebut.
Humas KNKT, Arif Iskandar, memberikan konfirmasi bahwa aspek persinyalan merupakan salah satu materi investigasi utama yang sedang ditelaah secara mendalam oleh tim di lapangan. Penjelasan tersebut disampaikan Arif kepada awak media pada hari Kamis, 30 April 2026, sebagai bentuk perkembangan terbaru terkait pengusutan kasus tabrakan kereta api tersebut.
Lintas Nasional: KNKT Investigasi Gangguan Sinyal dan Kecepatan KA Argo Bromo Anggrek dalam Kecelakaan di Bekasi Timur
Meskipun proses pemeriksaan sedang berlangsung, Arif masih enggan memberikan rincian terkait temuan awal dari hasil investigasi di lokasi. Ia menegaskan bahwa seluruh hasil penyelidikan nantinya akan diinformasikan kepada publik secara transparan sebagai dasar pemberian rekomendasi evaluasi bagi pihak-pihak terkait.
Seluruh hasil laporan resmi dari KNKT akan dipublikasikan secara terbuka melalui situs web resmi serta kanal komunikasi lainnya. Arif menambahkan bahwa rekomendasi keselamatan yang dihasilkan akan diserahkan kepada para pemangku kepentingan sebagai panduan untuk melakukan perbaikan sistem perkeretaapian di masa depan.
Upaya investigasi ini dilakukan seiring dengan viralnya sebuah video di media sosial yang memuat kesaksian asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek sesaat setelah peristiwa pada Senin malam, 27 April 2026. Dalam rekaman tersebut, asisten masinis mengutarakan adanya keganjilan pada indikator lampu sinyal saat kereta mulai melintas di area Stasiun Bekasi Kota.
Berdasarkan kutipan dari unggahan akun X @txttransportasi, asisten masinis tersebut menduga telah terjadi miskomunikasi dan kesalahan sistem pada lampu sinyal. Ia menceritakan bahwa koordinasi dengan Pusat Kendali atau PK belum sempat diterima secara utuh karena situasi darurat sudah terjadi lebih dahulu, bersamaan dengan perubahan warna sinyal menjadi merah secara tiba-tiba.
Asisten masinis KA Argo Bromo Anggrek tersebut juga menjelaskan bahwa secara teknis, perubahan sinyal ke warna merah seharusnya tidak terjadi secara mendadak jika melihat indikator sebelumnya. Ia memaparkan bahwa sinyal dari arah Bekasi sebelumnya berwarna hijau, sehingga koneksi sinyal di titik berikutnya maksimal seharusnya berwarna kuning, bukan merah. Pada saat kejadian berlangsung, kereta api tersebut dilaporkan tengah melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, yakni sekitar 110 km per jam.(*/cnni)


