Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka turun ke angka Rp16.301 per dolar AS pada sesi perdagangan hari ini, Selasa (17/6/2025).
Berdasarkan informasi dari Bloomberg, rupiah mengalami penurunan sebesar 0,22% atau 36 poin ke angka Rp16. 301. Di sisi lain, indeks dolar AS tercatat meningkat 0,20% ke level 98,19.
Berita Ekonomi: Perdagangan Hari Ini, Rupiah Dibuka ke Angka Rp16.301
Seperti halnya rupiah, beberapa mata uang Asia juga menunjukkan penurunan. Contohnya, yen Jepang turun 0,08%, dolar Singapura melemah 0,15%, dolar Taiwan mengalami penurunan 0,35%, dan won Korea Selatan berkurang 0,28%.
Lalu, peso Filipina mengalami penurunan sebesar 0,17%, yuan Tiongkok turun sebanyak 0,01%, dan baht Thailand menurun 0,14%.
Pada sesi perdagangan sebelumnya, pada hari Senin (16/6/2025), rupiah ditutup dengan penguatan sebesar 38,50 poin atau 0,24% menjadi Rp16.265 per dolar AS.
Pengamat valuta asing Ibrahim Assuaibi telah memperkirakan bahwa mata uang rupiah akan bergerak dengan volatilitas, namun diharapkan ditutup lebih kuat dalam kisaran Rp16.220 – Rp16.270 per dolar AS pada perdagangan hari ini.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Dari luar negeri, meningkatnya ketegangan dalam konflik antara Iran dan Israel tetap menjadi fokus perhatian pasar.
Pertukaran serangan antara Israel dan Iran sejak minggu lalu telah meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan meluasnya pertempuran di seluruh kawasan dengan dampak yang signifikan.
Perang juga dikhawatirkan mengganggu Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran penting. Sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia, atau sekitar 18 hingga 19 juta barel per hari minyak, kondensat, dan bahan bakar, melewati selat tersebut.
Pasar juga fokus pada serangkaian pertemuan bank sentral, dimulai dari bank sentral Jepang, Inggris, China, hingga The Fed akan memutuskan suku bunganya pekan ini.
Dari dalam negeri, utang luar negeri Indonesia kembali mencatatkan kenaikan secara bulanan pada April 2025 senilai US$800 juta atau menjadi US$431,55 miliar.
Meski terjadi kenaikan utang luar negeri sebesar 8,2% secara tahunan (year on year/yoy), posisi utang tetap terjaga. Kenaikan kewajiban luar negeri pemerintah tersebut meningkat sejalan dengan pelemahan rupiah yang terjadi usai pengumuman tarif resiprokal AS pada awal April 2025 lalu.(sg/bisnis)


