Minggu, Juli 5, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ekonomi

Sawit RI Disebut Kalah dari Malaysia, Ternyata Ini Penyebabnya

Oleh Redaksi 15
Kamis, 4 Juli 2024
Foto: Sawit RI

Foto: Ilustrasi Kelapa Sawit.(Istimewa)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar-Jakarta | Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) mengungkapkan, produktivitas sawit Indonesia cenderung menurun dan kalah jika dibandingkan dengan negara tetangganya, Malaysia. Padahal, jika dilihat dari luas lahan dan produksinya, sawit Indonesia lebih besar ketimbang Malaysia.

Hal ini sebagaimana disampaikan Ketua Kompartemen Media Relation Gapki Fenny Sofyan dalam diskusi bersama Forum Wartawan Pertanian (Forwatan) di Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan) Jakarta, Kamis (4/7/2024).

Berita Ekonomi: Sawit RI Disebut Kalah dari Malaysia, Ternyata Ini Penyebabnya

Iklan Indako SeputarSumut

“Produktivitas sawit (Indonesia) cenderung menurun. Memang kalau dilihat dari produksinya Indonesia lebih besar dari Malaysia, karena lahannya juga lebih luas. Tapi kalau dilihat dari produktivitas, ternyata sawit kita di bawah dari Malaysia. Itu yang harus kita evaluasi bersama,” ujarnya.

Adapun penyebab turunnya produktivitas tanaman sawit, kata Fenny, dikarenakan komposisi umur tanaman sawit di Indonesia 40% nya atau seluas 6,57 juta hektare (Ha) sudah masuk kategori tua. Untuk itu, menurutnya perlu dilakukan percepatan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

“Jadi edukasi terkait dengan pentingnya peremajaan kelapa sawit, kemudian perusahaan-perusahaan juga mensosialisasikan agar perusahaan secara konsisten melakukan replanting. Jangan sampai nanti terlambat,” kata Fenny.

Berita Terkait

KAI Divre I Sumut Layani 140.747 Pelanggan Kereta Api Selama Masa Libur Sekolah 2026

Temuan Minyakita Diduga Berbau Solar di Jawa Tengah Kemendag dan Bulog Lakukan Penarikan Massal

“Memang harus ada satu periode gitu, misalnya dalam 3 tahun perusahaan itu akan punya kinerja produksi yang mungkin turun gara-gara tanaman tidak menghasilkannya lebih banyak. Tapi itu hal yang harus dikorbankan kalau kita mau bicara jangka panjang gitu. Nah itu yang harus kemudian diedukasi,” sambungnya.

Moratorium Sawit
Faktor lainnya, lanjut Fenny, ada moratorium kebun sawit yang termaktub dalam Instruksi Presiden (Inpres) 10/2011, Inpres 6/2013, Inpres 8/2015, Inpres 5/2019. Katanya, pengusaha kelapa sawit tidak meminta agar moratorium itu dicabut, tetapi mereka mengeluh moratorium itu telah memperlambat produktivitas kebun sawit.

“Dengan adanya moratorium kebun sawit ini kan kita harus mengevaluasi bagaimana caranya memproduksi lebih banyak dalam waktu cepat, karena kita berlari berkejaran dengan waktu yang mana konsumsi lebih tinggi tapi kebutuhan tidak bisa dielakkan,” ucapnya.

“Apalagi ada program-program yang kemudian ingin ada value added dari produk kelapa sawit melalui hilirisasi. Jadi harus cepat untuk meningkatkan produktivitas ini gimana caranya gitu? Apakah moratorium ini kemudian dievaluasi atau kemudian ada intensifikasi yang harus dilakukan. Nah itu harus Kemudian ditegaskan oleh pemerintah selanjutnya. Jadi memang harus ada program yang ajeg,” imbuh dia.

Lebih lanjut, Fenny menyebutkan dampak dari adanya penurunan produksi dan produktivitas, diantaranya mengorbankan volume ekspor untuk memenuhi kebutuhan domestik, nilai devisa dan penerimaan negara berkurang, kemampuan membiayai program biodiesel, replanting, dan lain sebagainya jadi menurun, serta keberlanjutan hilirisasi dan peningkatan program biodiesel menjadi terancam, karena kekurangan pasokan bahan baku CPO.

“Jadi hulu dari industri kelapa sawit adalah kunci dari program Indonesia emas 2045, terutama dalam hilirisasi dari produk value added kelapa sawit. Itu menjadi kuncinya,” pungkasnya. (cnbcindonesia)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • KAI Divre I Sumut Layani 140.747 Pelanggan Kereta Api Selama Masa Libur Sekolah 2026
  • Kebakaran TPA Jatiwaringin Tangerang Belum Padam Selama 6 Hari, Ratusan Warga Mengungsi akibat Asap Pekat
  • Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji 2027 Diprediksi Naik Akibat Lonjakan Komponen Operasional
  • Hasil Piala Dunia 2026: Gol Penalti Kylian Mbappe Bawa Prancis Menang 1-0 atas Paraguay dan Lolos ke Perempatfinal
  • Iran Cabut Blokade Selat Hormuz dan Tetapkan Tenggat Waktu Negosiasi Damai dengan Amerika Serikat
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com