Kamis, Juli 2, 2026
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
Iklan Honda PT Indako Trading Coy Desktop
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial
No Result
View All Result
SeputarSumut: Berita Terkini Medan, Sumatera Utara dan RI
CURRENCY LIVE
USD/IDR
Memuat...
SGD/IDR
Memuat...
MYR/IDR
Memuat...
SAR/IDR
Memuat...
EUR/IDR
Memuat...
GBP/IDR
Memuat...
JPY/IDR
Memuat...
AED/IDR
Memuat...
AUD/IDR
Memuat...
BND/IDR
Memuat...
CAD/IDR
Memuat...
CHF/IDR
Memuat...
CNH/IDR
Memuat...
CNY/IDR
Memuat...
DKK/IDR
Memuat...
HKD/IDR
Memuat...
KRW/IDR
Memuat...
KWD/IDR
Memuat...
LAK/IDR
Memuat...
NOK/IDR
Memuat...
NZD/IDR
Memuat...
PGK/IDR
Memuat...
PHP/IDR
Memuat...
SEK/IDR
Memuat...
THB/IDR
Memuat...
VND/IDR
Memuat...
Iklan PT Indako Trading Coy
Beranda Ragam

Ternyata Ini Penyebab Orang Jepang Ogah Punya Motor

Oleh Redaksi 15
Kamis, 23 Mei 2024
Foto: Geng Motor

Bosozoku. (Dok: Wikipedia) Foto: Bosozoku. (Dok: Wikipedia)

Share on WhatsappShare on FacebookShare on Twitter

seputar-Jakarta | Pabrikan sepeda motor di dunia kebanyakan berasal dari Jepang. Sebut saja Yamaha, Honda, Suzuki, Kawasaki dan sebagainya. Meski terdapat banyak perusahaan pencipta motor, menariknya di Jepang justru jarang ada kendaraan roda dua itu.

Secara statistik, Statista (2021) menyebut hanya ada 10 juta unit motor di Jepang. Angka ini termasuk kecil karena jumlah penduduk Jepang mencapai 125 juta. Lantas kenapa ini bisa terjadi?

Pernik Ragam: Ternyata Ini Penyebab Orang Jepang Ogah Punya Motor

Iklan Indako SeputarSumut

Pada awalnya, warga Jepang suka membeli motor. Tahun 1950-an industri motor di Jepang sangat berjaya. Berkat upaya inovator Narazo Shimaru, motor menjadi barang murah. Namun pada 1980-an terjadi perubahan besar yang disebabkan oleh munculnya sentimen warga terhadap pemotor ugal.

“Tahun 1980-an adalah masa kejayaan sepeda motor di Jepang. Namun sekitar 20 tahun yang lalu, penolakan kuat terhadap budaya mengendarai motor tiba-tiba muncul,” kata Presiden Triumph Motorcycles Japan Kazuo Noda, kepada British Chamber of Commerce in Japan, dikutip Rabu (22/5/2024).

Penolakan kuat tersebut tak terlepas dari hadirnya kelompok Bosozoku. Secara harfiah, Bosozoku adalah geng motor asal Jepang yang beranggotakan pemuda usia 16-20 tahun. Mereka muncul imbas menjamurnya kendaraan roda dua. Ciri khas mereka adalah kerap mengendarai motor secara massal dan memodifikasinya dengan berbagai model.

Berita Terkait

Rekomendasi Makanan Berkhasiat Antikanker yang Terbukti Secara Ilmiah Menurut Penelitian

Ragam Manfaat Rebusan Daun Bawang untuk Kesehatan Tubuh dan Cara Mengolahnya

Dalam pewartaan media lokal, Jalopnik, diketahui sejak muncul tahun 1970-an, Bosozoku kerap bikin ulah. Mereka sering membunyikan klakson, mengayunkan senjata, meneriaki pejalan kaki dan pengendara lain, merusak properti, dan mengganggu masyarakat lain.

Bahkan, mereka juga kerap melakukan kriminal di luar aktivitas mengendarai motor. Salah satu eks-Bosozoku, Shotaro Nagasawa, bersaksi kepada Japan Times bahwa dirinya kerap melakukan perkelahian, entah itu saat berkendara atau tidak.

“Perkelahian, pertumpahan darah, dan kejadian nyaris mati tampaknya selalu menghantui remaja tersebut (Shotaro) ke mana pun dia pergi,” tulis media jepang itu.

Atas dasar ini, Japan Times menyebut Bosozoku sebagai salah satu bentuk kenalan remaja di Jepang. Apalagi, kelompok ini juga terbukti dekat dengan kelompok kriminal Yakuza. Singkatnya, Bosozoku menjadi ‘duri dalam daging’ di tatanan kehidupan masyarakat Jepang yang dikenal sopan, santun, dan hidup teratur. Polisi selalu gagal mengatasi ulah mereka. Warga pun resah.

Akibatnya muncul asosiasi, semua pengendara motor bagian dari Bosozoku yang kerap bikin ulah. Alhasil, lahir sentimen dan stereotip kepada pengendara roda dua yang kemudian dipercaya masyarakat luas. Padahal, tak semua bertindak kriminal. Dari sinilah, untuk mencari aman, motor mulai jarang digunakan dan dibeli masyarakat.

Munculnya sentimen tersebut lantas terus berlangsung bertahun-tahun yang membuat pandangan warga atas motor berubah. Apalagi dalam perjalanannya motor, atau mobil sekalipun, tak lagi dianggap penting warga Jepang. Ini terjadi karena mereka punya sistem transportasi yang baik dan hidup dalam kungkungan aturan rumit kepemilikan kendaraan.

Sampai sekarang, Bosozoku masih ada dalam skala kecil. Meski begitu, laporan Japan Times 2022 lalu menyebut pengguna motor di Jepang mulai merangkak naik. Pada semester I 2022, penjualan motor bermesin 251 cc naik 32% menjadi 51.035 unit.

Hal ini bisa terjadi karena banyak warga mulai menghabiskan banyak waktu di luar rumah pasca-pandemi. Salah satu caranya adalah dengan mengendarai motor karena bisa didapat lebih cepat dibanding mobil. (cnbcindonesia)

Konten berbayar dibawah ini adalah iklan platform MGID, SeputarSumut.com tidak terkait dengan pembuatan konten ini

BeritaTerbaru

  • OJK Sumut dan Pemkab Tapanuli Utara Jalin Kerja Sama Skema SEJAGAT Perkuat Ekosistem Jagung Rakyat
  • Hasil Piala Dunia 2026 Amerika Serikat vs Bosnia Bermain 10 Orang AS Menang 2-0 Lolos 16 Besar
  • Pembicaraan Tidak Langsung di Doha Capai Kemajuan Positif, AS dan Iran Siap Lanjutkan Dialog Usai Pemakaman Khamenei
  • Harga Emas Antam Hari Ini Naik Jadi Rp 2.640.000 Per Gram, Segini Rincian Lengkapnya
  • BMKG Pastikan Potensi Gelombang Panas Ekstrem Eropa Sangat Kecil Terjadi di Indonesia
Seputar Sumut

Portal berita terkini Medan & Sumatra Utara. Info ekonomi, politik, daerah, nasional, internasional, hingga hiburan terpercaya di SeputarSumut.com.

  • Redaksi
  • Hubungi Kami
  • Pedoman Media
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Medan
  • Ekonomi
  • Ragam
  • Olahraga
  • Politik
  • Daerah
  • Nasional
  • Internasional
  • Hiburan
  • Advertorial

@ 2020 SeputarSumut.com